i
Baca ini terlebih dahulu
Pemberitahuan edukasi dan sumber
Hanya untuk tujuan edukasi
Panduan ini merupakan alat bantu belajar, bukan pengganti protokol institusi terkini, pertimbangan klinis tenaga profesional yang kompeten, atau pelatihan praktik bersertifikat. Handbook menyatakan bahwa rekomendasi ini bersifat edukatif, bukan standar yang kaku, dan tenaga profesional yang merawat tetap bertanggung jawab atas keputusan klinis.
Konteks sumber dan hak cipta
ACLS Provider Handbook: Dr. Karl Disque, 2020–2025 Guidelines and Standards, versi 2025.01, Satori Continuum Publishing. Sumber tersebut mempertahankan hak reproduksi dan distribusi.
Materi Mediko 2026: PT. Mediko Edukatif Indonesia menyatakan bahwa materi, try-out, dan rekamannya dilindungi hukum hak cipta Indonesia serta tidak boleh disalin, diunggah, dibagikan, atau dijual kembali.
Turunan lokal ini disusun untuk review internship pribadi pengguna yang memasok sumber. Seluruh isi panduan ditampilkan dalam bahasa Indonesia klinis dengan nama resmi, akronim, dan istilah standar dipertahankan bila diperlukan.
Penanganan konflik sumber
Dokumen sumber memuat sejumlah nilai yang tidak konsisten secara internal. Panduan ini mempertahankan setiap nilai di dekat konteks sumbernya dan menempatkan peringatan berwarna amber di samping perbedaan tersebut. Tidak ada nilai sumber yang diam-diam diganti dengan nilai lain.
Bagian I · Bahasa Indonesia
Buku Panduan Penyedia ACLS
Cakupan ringkas seluruh 10 bab, termasuk setiap subbagian bernama, penilaian mandiri, algoritme, tabel obat, dan angka penting.
1
Pengantar ACLS
Handbook hlm. 5
Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) merupakan rangkaian respons berbasis bukti yang dirancang agar dapat diingat dengan cepat pada kejadian yang mengancam nyawa. Algoritmenya memadukan penelitian, studi klinis, pengalaman kasus, dan konsensus ahli.
Landasan
Setiap jalur ACLS dimulai dengan penilaian sistematis: Survei BLS, diikuti Survei ACLS (A–B–C–D). Tenaga penolong diharapkan mahir dalam BLS sebelum menerapkan ACLS.
Pertimbangan klinis tetap menjadi pusat
Pilih intervensi yang paling sesuai dengan pasien dan sumber daya yang tersedia, lalu lakukan penilaian ulang secara terus-menerus. Algoritme menyediakan kerangka saat informasi atau peralatan belum lengkap.
Pedoman yang terus berkembangHandbook ini didasarkan pada pedoman ILCOR CPR/ECC 2020 dan menyarankan pemeriksaan rekomendasi yang terus diperbarui di ECCguidelines.heart.org.
2
Penilaian Awal
Handbook hlm. 6
Pastikan keamanan lokasi
→Panggil, tepuk, dan nilai respons
Tidak sadarMulai Survei BLS, lalu Survei ACLS
SadarDapatkan persetujuan; lanjutkan penilaian terarah dan anamnesis
Keputusan pertamaSaat menemukan seseorang yang “tergeletak,” segera tentukan tingkat kesadarannya—tetapi jangan pernah memasuki lokasi yang tidak aman.
3
Bantuan Hidup Dasar
Handbook hlm. 7–21
BLS berpusat pada pengenalan dini, kompresi berkualitas tinggi, napas bantuan bila sesuai, penggunaan AED secara cepat, penanganan tersedak, dan kerja tim yang terkoordinasi.
Memulai Rantai Kelangsungan Hidup
Kenali gejala
Aktifkan EMS
→RJP dini
→Defibrilasi dengan AED
Bantuan hidup lanjut
→Perawatan pascahenti jantung
→Pemulihan
Pada anak dan bayi, gangguan pernapasan sering mendahului henti jantung. Rantai mereka dimulai dengan pencegahan, kemudian RJP dini, aktivasi EMS, bantuan hidup lanjut, perawatan pascahenti jantung, dan pemulihan.
Penekanan pedoman 2020
- Penolong awam harus memulai RJP lebih dini meskipun belum yakin; bahaya kecil kemungkinannya bila korban ternyata tidak mengalami henti jantung.
- Pemulihan menjadi mata rantai keenam pada Rantai Kelangsungan Hidup dewasa dan pediatri.
- Setelah ROSC, kelola oksigenasi, tekanan darah, evaluasi PCI, suhu, dan neuroprognostik multimodal secara ketat.
- Pemulihan mencakup penilaian fisik, kognitif, dan psikososial; debriefing dapat mendukung penolong dan tenaga kesehatan.
- Penanganan henti jantung pada kehamilan memprioritaskan resusitasi ibu dan persiapan seksio sesarea perimortem dini.
BLS untuk Dewasa
100–120/minFrekuensi kompresi
5–6 cmKedalaman (2–2.4 in)
30:2Kompresi : napas
≤10 secPemeriksaan nadi / napas
1 secSetiap napas hingga dada tampak terangkat
2 minRJP di antara pemeriksaan irama
Satu penolong
- Pastikan keamanan. Tepuk bahu dan panggil dengan suara keras; napas agonal tidak dihitung sebagai napas normal.
- Hubungi EMS melalui pengeras suara dan minta AED bila memungkinkan. Periksa nadi karotis dan napas secara bersamaan selama tidak lebih dari 10 detik.
- Bila tidak ada nadi yang pasti, letakkan pangkal telapak satu tangan pada setengah bawah sternum, tangan kedua di atasnya, dengan lengan lurus. Lakukan kompresi sedalam 5–6 cm dengan frekuensi 100–120/min dan recoil sempurna.
- Setelah 30 kompresi, lakukan ekstensi kepala-angkat dagu (head-tilt/chin-lift), kemudian berikan 2 napas masing-masing satu detik sambil mengamati pengangkatan dada. Minimalkan semua jeda.
- Pasang AED segera setelah tersedia, ikuti petunjuknya, dan langsung lanjutkan kompresi setelah setiap kejut.
Dua penolong, pocket mask, dan bag-mask
- Penolong kedua mengaktifkan EMS, mengambil/menyiapkan AED, membuka jalan napas, dan memberikan napas. Tukar peran setelah sekitar lima siklus untuk mencegah kelelahan.
- Untuk pocket mask, buat segel dengan empat jari pada bagian atas dan ibu jari tangan lain pada tepi bawah; angkat rahang ke arah masker dan berikan ventilasi selama satu detik.
- Untuk ventilasi bag-mask, satu penolong mempertahankan segel C–E dan mengangkat rahang sementara penolong lain melakukan kompresi, lalu memberikan dua napas masing-masing satu detik setelah 30 kompresi.
- RJP hanya dengan tangan merupakan alternatif yang dapat diterima bila penolong tidak bersedia memberikan ventilasi karena kekhawatiran penyakit yang menular melalui udara.
RJP berkualitas tinggiMulai kompresi dalam 10 detik; tekan kuat dan cepat; biarkan recoil sempurna; minimalkan interupsi; pastikan dada tampak terangkat; jangan memberikan ventilasi berlebihan; nilai irama yang dapat dikejut segera setelah AED tersedia.
Variasi sumber · napas bantuanAlgoritme BLS dewasa menyatakan 1 napas setiap 5–6 detik (10–12/min) untuk pasien dengan nadi tetapi tanpa napas normal. Bagian jalan napas lanjut berikutnya umumnya menyatakan 1 napas setiap 6 detik (10/min).
BLS untuk Anak dan Bayi
Pokok RJP anak dan bayi
| Komponen | Anak (1 tahun hingga pubertas) | Bayi (baru lahir hingga 12 bulan) |
| Lokasi nadi | Karotis | Brakialis |
| Posisi kompresi | Satu atau dua tangan pada setengah bawah sternum | Dua atau tiga jari pada sternum di garis puting; teknik dua ibu jari dapat digunakan oleh dua penolong |
| Kedalaman | Sekitar 5 cm / 2 in (sepertiga diameter AP) | Sekitar 4 cm / 1.5 in (sepertiga diameter AP) |
| Frekuensi | 100–120/min | 100–120/min |
| Rasio | 30:2 satu penolong; 15:2 dua penolong | 30:2 satu penolong; 15:2 dua penolong |
| Saat sendirian tanpa telepon | Lakukan RJP sekitar 2 menit sebelum meninggalkan korban sebentar untuk mengaktifkan bantuan |
| AED | Pad pediatri bila usia di bawah 8 tahun dan berat <25 kg (55 lb) | Pad pediatri; gunakan penempatan anterior-posterior bila pad akan saling tumpang tindih |
Tepuk bahu anak atau telapak kaki bayi, periksa napas dan nadi selama 5–10 detik, dan anggap gasping sebagai tidak bernapas. Buka jalan napas dengan lembut; pada bayi pertahankan posisi leher netral dan hindari ekstensi berlebihan. Setiap napas berlangsung satu detik dan menghasilkan pengangkatan dada yang terlihat.
Pada RJP bag-mask dengan dua penolong, satu penolong mempertahankan segel dan mengangkat rahang sementara penolong lain memberikan 15 kompresi diikuti 2 napas. Tukar peran dengan cepat dan pertahankan recoil sempurna.
Penilaian Mandiri BLS
Tinjau enam soal dan jawaban handbook
- BLS harus dikuasai sebelum ACLS. RJP merupakan landasan penting resusitasi henti jantung.
- Pertama, nilai apakah orang yang ditemukan “tergeletak” masih sadar.
- Keamanan lokasi sangat penting pada setiap kegawatdaruratan.
- Dewasa dengan nadi tetapi tidak bernapas: jawaban sumber adalah 10–12 napas/min.
- Rantai yang benar: respons → EMS/AED → kompresi dada → defibrilasi dini → pemulihan.
- Tidak respons dan tanpa nadi setelah aktivasi EMS/AED: mulai kompresi dada.
4
Dukungan Hidup Kardiovaskular Lanjut
Handbook hlm. 22–39
Anatomi dan Fisiologi Jantung Normal
Atrium dan ventrikel kanan memompa darah terdeoksigenasi ke paru; darah teroksigenasi kembali ke atrium kiri dan masuk ke ventrikel kiri berdinding tebal, yang mengejeksi darah melalui aorta. Katup mencegah aliran balik.
Nodus SA
pemacu alami
→Depolarisasi atrium
gelombang P
→Jeda nodus AV
interval PR
Sistem His–Purkinje
→Depolarisasi ventrikel
QRS
→Repolarisasi ventrikel
gelombang T
Rekaman EKG prototipikal
| Gelombang P | Depolarisasi dan kontraksi atrium | Interval PR | Awal gelombang P hingga awal QRS; konduksi AV |
| QRS | Depolarisasi/kontraksi ventrikel kanan dan kiri | Segmen PR | Akhir P hingga awal QRS; jeda AV |
| Gelombang T | Repolarisasi ventrikel / awal relaksasi | Segmen ST | Titik J hingga awal gelombang T; repolarisasi ventrikel |
| Interval QT | Awal QRS hingga akhir gelombang T; depolarisasi hingga repolarisasi ventrikel | Interval RR | Waktu antara gelombang R yang berurutan |
| Interval TP | Akhir gelombang T hingga awal gelombang P berikutnya |
Irama ACLS dan Interpretasinya
Pengenalan irama secara cepat mengarahkan defibrilasi, kardioversi, pemberian obat, pacu jantung, dan penanganan penyebab reversibel. Nilai keteraturan, frekuensi, gelombang P, interval PR, lebar QRS, dan nadi klinis.
Irama sinus normal
P–QRS–T normal; frekuensi 60–100/min. Tidak memerlukan terapi.
Bradikardia sinus
Morfologi normal, <60/min. Bila bergejala: atropin, infus dopamin, infus epinefrin, atau pacu jantung.
Takikardia sinus
Morfologi normal, >100/min. Atasi demam, kecemasan, olahraga, atau penyebab lain; beta-blocker dapat dipertimbangkan.
Blok AV derajat 1
PR memanjang. Sumber mencatat pacu jantung hanya bila pemanjangan PR melebihi 400 ms.
Mobitz I
PR memanjang progresif hingga satu QRS hilang. Atropin, dopamin, atau pacu jantung bila bergejala.
Mobitz II
PR konstan, sering >0.20 sec, disertai QRS yang hilang (umumnya 3:1 atau 4:1). Pacu jantung transkutan.
Blok derajat 3
Gelombang P dan kompleks QRS terdisosiasi. Pacu jantung transkutan.
SVT
Irama kompleks sempit reguler, biasanya 150–250/min. Manuver vagal, adenosin, kardioversi tersinkronisasi.
Fibrilasi atrium
Tidak ada gelombang P yang konsisten; ireguler tidak teratur. Kontrol laju, digoksin, atau kardioversi tersinkronisasi sesuai indikasi.
Flutter atrium
Aktivitas atrium berbentuk gigi gergaji dengan beberapa gelombang flutter per QRS. Kontrol laju atau kardioversi tersinkronisasi.
VT tanpa nadi
QRS abnormal dan lebar, tanpa nadi efektif. Defibrilasi; ikuti algoritme henti jantung.
Fibrilasi ventrikel
Gelombang kacau dan tidak terorganisasi tanpa nadi. Defibrilasi, epinefrin, amiodaron atau lidokain.
PEA
Irama listrik terorganisasi atau semi-terorganisasi tanpa nadi yang teraba. RJP, epinefrin, dan koreksi penyebab reversibel.
Asistol
Garis hampir datar tanpa aktivitas listrik. Pastikan peralatan dan sadapan kedua; RJP dan epinefrin—jangan pernah dikejut.
Survei ACLS (A–B–C–D)
A · Jalan napas
- Pertahankan jalan napas terbuka.
- Pertimbangkan jalan napas lanjut hanya bila manfaatnya melebihi dampak interupsi RJP.
- Bila dipasang, pantau dengan kapnografi gelombang kuantitatif.
- Hentikan kompresi tidak lebih dari 10 detik agar pemasangan efisien.
B · Pernapasan
- Pada henti jantung, berikan oksigen 100% pada awalnya.
- Jangan memberikan ventilasi berlebihan.
- PaCO₂ normal: 35–40 mmHg pada bagian ini.
- RJP berkualitas tinggi harus menghasilkan ETCO₂ 10–20 mmHg.
C · Sirkulasi
- Evaluasi irama dan nadi.
- Lakukan defibrilasi/kardioversi sesuai indikasi.
- Dapatkan akses IV/IO serta berikan obat dan cairan sesuai irama.
- Pantau tekanan darah dan irama secara terus-menerus.
D · Diagnosis banding
- Identifikasi dan tangani penyebab reversibel.
- Gunakan irama dan riwayat untuk memprioritaskan diagnosis banding.
- Minimalkan interupsi saat memastikan atau mengoreksi penyebab.
Peringatan ETCO₂ dalam sumberBila ETCO₂ <10 mmHg, perbaiki RJP dan verifikasi posisi jalan napas. Handbook menyatakan ETCO₂ persisten <10 mmHg setelah 20 menit pada pasien terintubasi dapat mendukung pertimbangan penghentian; keputusan ini memerlukan keseluruhan konteks klinis dan protokol setempat.
Variasi sumber · target oksigen dan CO₂Bagian ini menyatakan untuk mempertahankan SpO₂ ≥94% dan PaCO₂ 35–40 mmHg. Bagian pascahenti berikutnya menyatakan SpO₂ 92–98% atau 94–99% dan PaCO₂ 35–45 mmHg.
Tatalaksana Jalan Napas
Bila ventilasi bag-mask memadai, tunda jalan napas lanjut daripada menginterupsi perfusi. Alat bantu dasar berakhir di faring; alternatif lanjut meliputi LMA, laryngeal tube, esophageal-tracheal tube, dan endotracheal tube.
Alat bantu jalan napas dasar dan lanjut
| Alat | Penggunaan | Perhatian / teknik penting |
| OPA | Pasien tidak sadar yang berisiko mengalami sumbatan oleh lidah | Hanya bila tidak ada refleks batuk/muntah. Ukur dari sudut mulut ke daun telinga; masukkan mengarah ke palatum lalu putar agar menopang lidah. |
| NPA | Pasien sadar atau setengah sadar; OPA sulit/berbahaya | Gunakan hati-hati pada fraktur wajah. Ukur dari ujung hidung ke daun telinga; lumasi, masukkan lurus ke belakang, jangan pernah dipaksa. |
| ET tube | Jalan napas lanjut paling aman | Sulit secara teknis; memerlukan tenaga berpengalaman dan laringoskop. |
| LMA | Alternatif intubasi ET | Ventilasi sebanding dan pemasangan cepat bila operator berpengalaman. |
| Laryngeal tube | Pilihan supraglotis ringkas dengan pemasangan tanpa visualisasi | Satu balon besar; lebih sederhana daripada combitube. |
| Esophageal-tracheal tube | Alternatif jalan napas lanjut | Dua balon dan port; identifikasi port ventilasi yang benar. |
Pengisapan
- Lakukan pengisapan segera bila terdapat sekret banyak, darah, atau muntahan; setiap upaya ≤10 detik.
- Lakukan hiperoksigenasi sebelum/sesudah tindakan bila memungkinkan. Pantau frekuensi jantung, SpO₂, irama, warna, dan kondisi klinis; hentikan bila terjadi hipoksemia, aritmia baru, atau sianosis.
- Jangan memasukkan kateter orofaring terlalu dalam; gunakan teknik steril di dalam ET tube.
Ventilasi dengan jalan napas lanjutSetelah jalan napas lanjut terpasang, lanjutkan kompresi tanpa jeda dan berikan 1 napas setiap 6 detik (10/min) pada bagian jalan napas lanjut.
Rute Akses
IV perifer lebih diutamakan
- Berikan bolus IV kecuali dinyatakan lain.
- Bilas dengan 20 mL salin/cairan.
- Angkat ekstremitas selama 10–20 detik.
Obat perifer dapat memerlukan ≥2 menit untuk mencapai sirkulasi sentral; RJP berkualitas tinggi mendukung penghantaran obat.
IO bila IV tidak tersedia
Setelah dua upaya IV tidak berhasil, lanjutkan ke IO. Akses ini dapat dipasang dalam waktu kurang dari satu menit pada semua kelompok usia, memiliki absorpsi yang lebih dapat diprediksi daripada pemberian ET, dan menerima obat atau cairan apa pun yang dapat diberikan melalui IV.
Pemasangan jalur sentral biasanya tidak diperlukan selama resusitasi dan dapat menginterupsi RJP. Absorpsi obat melalui ET buruk dan dosisnya tidak dapat diandalkan.
Perangkat Farmakologis
Obat ACLS dewasa yang umum — dosis sumber
| Obat | Penggunaan utama | Dosis / rute | Catatan |
| Adenosin | SVT sempit; takikardia QRS lebar monomorfik reguler terpilih | 6 mg IV cepat; ulang 12 mg setelah 1–2 min | Dorong cepat melalui akses proksimal + bilas; lakukan pemantauan; dapat timbul kemerahan/rasa berat di dada. Hindari pada QRS lebar ireguler. |
| Amiodaron | VF/VT tanpa nadi; VT dengan nadi | Henti jantung: 300 mg, lalu 150 mg; maks 450 mg. VT stabil: 150 mg selama 10 min lalu infus. | Hipotensi/bradikardia; waktu paruh panjang; hindari pada blok derajat 2/3; tidak melalui ET. |
| Atropin | Bradikardia bergejala; organofosfat/toksin | Tabel: 1 mg IV/IO, maks 3 mg. Toksin: mungkin diperlukan 2–4 mg. | Pantau jantung/TD; hindari pada glaukoma/takiaritmia. |
| Dopamin | Syok/CHF; bradikardia bergejala | 5–20 mcg/kg/min, titrasi | Koreksi volume terlebih dahulu; pantau irama/TD. |
| Epinefrin | Henti jantung; anafilaksis; bradikardia/syok | Henti jantung: 1 mg IV/IO. Infus ditampilkan sebagai 0.1–0.5 mcg/kg/min untuk TD; bradikardia/syok 2–10 mcg/min. Anafilaksis 0.3–0.5 mg IM q5 min PRN. | Bedakan konsentrasi 1:1,000 dan 1:10,000; pemantauan kontinu. |
| Lidokain | Alternatif untuk VF/VT; takikardia kompleks lebar | 1–1.5 mg/kg; setengah dosis pertama setelah 5–10 min; infus 1–4 mg/min | Bolus cepat dapat menyebabkan hipotensi/bradikardia; hati-hati pada gangguan ginjal. |
| Magnesium sulfat | Torsades tanpa nadi; torsades dengan nadi | Henti jantung: 1–2 g dalam 10 mL D5W dorong IV. Dengan nadi: 1–2 g selama 5–60 min; 0.5–1 g/hr. | Hati-hati pada gangguan ginjal; kalsium klorida membalikkan hipermagnesemia. |
| Prokainamid | QRS lebar stabil / VT dengan nadi | 20–50 mg/min hingga aritmia tertekan, terjadi hipotensi, QRS +50%, atau maks 17 mg/kg; pemeliharaan 1–4 mg/min | Hindari pada QT memanjang/CHF dan penggunaan amiodaron bersamaan. |
| Sotalol | VT monomorfik; antiaritmia lini ketiga | 100 mg (1.5 mg/kg) selama 5 min | Hindari pada QT memanjang. |
Konflik sumber · atropinTabel obat dan algoritme bradikardia menetapkan 1 mg IV, diulang setiap 3–5 menit hingga 3 mg. Teks penjelasan berikutnya pada hlm. 73–74 mengulang dosis awal lama sebesar 0.5 mg. Kedua pernyataan sumber dipertahankan; perbedaan ini tidak boleh terlewat.
Penilaian Mandiri ACLS
Tinjau tiga soal dan jawaban handbook
- Pilihan untuk bradikardia bergejala meliputi atropin, epinefrin, dan dopamin (semua jawaban benar); pacu jantung dapat dilakukan berikutnya.
- Alkoholisme disertai torsades mengarah pada hipomagnesemia: magnesium sulfat 1–2 g IV.
- Kemerahan dan rasa berat di dada setelah terapi SVT paling kuat mengarah pada adenosin.
5
Prinsip Defibrilasi Dini
Handbook hlm. 40–42
RJP menghasilkan aliran yang terbatas; defibrilasi menginterupsi irama kacau agar pemacu normal dapat kembali mengambil alih. Kesintasan menurun bila defibrilasi tertunda.
360 JKejut monofasik
120–200 JContoh rentang awal bifasik; ikuti panduan produsen
≤10 secInterupsi maksimum untuk pemeriksaan irama
2 minRJP segera setelah kejut
- Lanjutkan RJP selama defibrilator mengisi daya.
- Jauhkan aliran oksigen dari dada, pastikan secara visual semua orang tidak menyentuh pasien, dan serukan “CLEAR.”
- Berikan kejut: monofasik 360 J untuk setiap kejut; bifasik sesuai rekomendasi produsen, dengan eskalasi bila wajar.
- Segera lanjutkan RJP dimulai dengan kompresi. Jangan berhenti untuk memeriksa nadi hingga siklus 2 menit berikutnya selesai.
Kriteria dan Penggunaan Dasar AED
Nyalakan AED
→Pilih pad dewasa/pediatri
→Keringkan dada telanjang; hindari patch obat/tonjolan alat
Pasang pad kanan atas + kiri bawah
→Pastikan semua menjauh untuk analisis irama
→Berikan kejut bila disarankan
Segera lanjutkan RJP
→Analisis ulang setelah 2 menit
- Pasang AED ketika pasien tidak respons, tidak bernapas efektif, dan tidak memiliki nadi karotis.
- Bila muncul pesan “kejut tidak disarankan,” mulai kembali RJP. Bila AED gagal berfungsi, lanjutkan RJP daripada menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencari masalah alat.
- Jangan gunakan AED di dalam air. Pacemaker/defibrilator implan bukan kontraindikasi, tetapi jangan memasang pad tepat di atas alat tersebut.
6
Sistem Pelayanan
Handbook hlm. 43–51
Luaran membaik ketika masyarakat, EMS, unit gawat darurat, pusat kateterisasi, pusat stroke, tim perawatan kritis, dan layanan pemulihan berfungsi sebagai satu sistem terkoordinasi.
Sistem resusitasi jantung paru
Setiap mata rantai Rantai Kelangsungan Hidup harus kuat: pengenalan oleh masyarakat dan akses AED, keterampilan EMS terkini, rumah sakit penerima yang siap, pusat reperfusi/perawatan kritis ahli, serta dukungan pemulihan fisik, kognitif, dan psikososial yang terstruktur.
Perawatan Pascahenti Jantung
32–37.5°CRentang pengendalian suhu
≥24 hrDurasi pengendalian suhu
>94%Target SpO₂ yang dinyatakan di sini
35–40ETCO₂ mmHg yang dinyatakan di sini
10–12/minFrekuensi ventilasi yang dinyatakan di sini
- Suhu: dinginkan pasien ROSC yang koma hingga 89.6–99.5°F (32–37.5°C) selama sedikitnya 24 jam.
- Hemodinamik/ventilasi: oksigen 100% dapat diterima pada awal tetapi tidak untuk penggunaan berkepanjangan; titrasi oksigen, hindari ventilasi berlebihan, dan gunakan cairan/obat vasoaktif untuk stabilitas.
- PCI: PCI lebih diutamakan daripada trombolitik. Bawa langsung ke rumah sakit PCI bila memungkinkan; pindahkan dari pusat yang hanya menyediakan trombolitik bila waktu memungkinkan.
- Neurologi: gunakan penilaian serial dan konsultasi spesialis, terutama sebelum menentukan prognosis atau menghentikan perawatan.
- Pemulihan: tangani kebutuhan fisik, kognitif, dan psikososial secara formal; lakukan debriefing untuk penolong dan tim perawatan.
Variasi sumber · target pasca-ROSCDi bagian lain, handbook menggunakan SpO₂ 92–98% atau 94–99%, PaCO₂ 35–45 mmHg, dan ventilasi 10/min. Semuanya ditampilkan dalam panduan ini sesuai konteks asalnya.
Sistem Sindrom Koroner Akut
Kenali gejala
Aktifkan EMS
→EKG dan tatalaksana prarumah sakit
→Perawatan IGD berbasis bukti
PCI atau fibrinolisis
→Perawatan pasca-MI berkualitas
Tujuannya adalah mengurangi nekrosis miokard dan mempertahankan fungsi, menangani VF/VT/syok serta komplikasi lain, dan mencegah kejadian kardiak merugikan mayor. EMS harus merekam EKG dan memberi pemberitahuan awal kepada rumah sakit penerima mengenai kemungkinan STEMI atau NSTEMI.
Sistem Stroke Akut
FAST
- Face · Wajah
- Seringai atau penurunan satu sisi
- Arms · Lengan
- Kelemahan, drift, atau paralisis pada sisi yang sama
- Speech · Bicara
- Pelo atau tidak dapat dipahami
- Time · Waktu
- Catat onset/waktu terakhir diketahui normal dan hubungi EMS
8 D’s
Detection, Dispatch, Delivery, Door, Data, Decision, Drug, Disposition. Pertahankan mnemonik sumber: deteksi, pengiriman bantuan, transportasi, tiba di rumah sakit, data, keputusan, obat, dan disposisi. Door mencakup target seperti door-to-needle <60 menit.
Utamakan transportasi ke pusat yang mampu menangani stroke. Tim stroke atau ahli kegawatdaruratan harus menilai pasien dan mencapai CT dengan cepat—bagian sistem menetapkan target menuju CT dalam 10 menit.
Tim Resusitasi
Ketua tim
Mengatur, memantau, melakukan atau memahami seluruh keterampilan, mengarahkan anggota, dan memimpin evaluasi pascakejadian.
Anggota tim
Memahami perannya sendiri dan peran orang lain, bekerja sesuai kompetensi, mengetahui urutan ACLS, dan berkomitmen terhadap hasil tim.
Dinamika tim
Peran yang jelas, pengenalan keterbatasan, intervensi konstruktif, berbagi pengetahuan, rangkuman, komunikasi tertutup, pesan yang jelas, dan saling menghormati.
Ketua memberikan tugas yang jelas
→Anggota mengonfirmasi dengan suara dan kontak mata
→Anggota melaporkan penyelesaian dan hasil
Edukasi, implementasi, dan respons cepat
Hanya sekitar 20% pasien henti jantung di rumah sakit yang bertahan hidup, sementara empat dari lima menunjukkan perubahan tanda vital sebelumnya. Rapid Response/Medical Emergency Teams bertujuan melakukan intervensi sebelum henti jantung daripada menunggu Code Blue.
Kriteria aktivasi RRT/METJalan napas terancam atau napas kerja berat; bradikardia <40/min atau takikardia >120/min; hipotensi atau hipertensi bergejala; perubahan status mental; kejang; penurunan mendadak dan besar pada produksi urin.
Penilaian mandiri Sistem Pelayanan
- Jeda terlama untuk memeriksa nadi: 10 detik.
- Pasangan parameter RJP dewasa: 100–120/min, kedalaman 5–6 cm.
- Peran penolong kedua dapat mencakup memanggil bantuan, mengambil AED, dan memberikan ventilasi: semua jawaban benar.
7
Kasus ACLS
Handbook hlm. 52–94
Henti Napas
Henti napas berarti tidak ada napas atau napas tidak efektif, termasuk napas agonal. Segera ikuti Survei BLS dan ACLS.
Periksa respons dan napas ≤10 sec
→Hubungi EMS dan ambil AED
→Nilai nadi
Nadi adaBerikan napas bantuan setiap 5–6 sec; periksa nadi setiap 2 min
Tidak ada nadiRJP 30:2, kedalaman ≥2 in, 100–120/min; kejut bila diindikasikan
Buka jalan napas dengan ekstensi kepala-angkat dagu kecuali cedera servikal mengharuskan pendekatan lain. Gravitasi memungkinkan rahang dan lidah menyumbat jalan napas pasien tidak sadar. Hindari volume atau frekuensi berlebihan: hiperventilasi meningkatkan tekanan intratoraks, menurunkan aliran balik vena dan curah jantung, serta memicu muntah/aspirasi.
VT Tanpa Nadi, VF, PEA, dan Asistol
Dapat dikejut VF / VT tanpa nadi
VF merupakan getaran ventrikel yang kacau; VT biasanya berupa irama kompleks lebar yang reguler dan cepat, sering 150–250/min, dengan QRS >0.12 sec. Torsades tanpa nadi merupakan VT kompleks lebar ireguler. Lakukan defibrilasi dan ikuti jalur ritme yang dapat dikejut.
Tidak dapat dikejut PEA / asistol
PEA adalah setiap irama terorganisasi atau semi-terorganisasi tanpa nadi, tidak termasuk VF/VT/asistol. Asistol tidak memiliki frekuensi, gelombang P, atau QRS. Verifikasi pad, sadapan, gain, daya, dan sadapan kedua sebelum menyatakan asistol.
Penyebab reversibel PEA terseringHipovolemia dan hipoksia adalah dua penyebab tersering dan mudah dibalik.
Penyebab reversibel — H dan T
| H’s | T’s |
| Hipovolemia | Pneumotoraks tensi |
| Hipoksia | Tamponade jantung |
| H⁺ (asidosis) | Toksin |
| Hipo-/hiperkalemia | Trombosis koroner |
| Hipoglikemia | Trombosis pulmoner |
| Hipotermia | Trauma yang tidak dikenali |
Algoritme henti jantung dewasa
Aktifkan respons · Mulai RJP · Oksigen · Monitor/defibrilator
VF / VT tanpa nadiKejut → RJP 2 min + IV/IO → kejut → RJP 2 min + epinefrin q3–5 min + jalan napas/kapnografi → kejut → RJP + amiodaron/lidokain + penyebab reversibel
Asistol / PEAEpinefrin sesegera mungkin → RJP 2 min + epinefrin q3–5 min + jalan napas/kapnografi → tangani penyebab reversibel
Bila ROSC: segera lakukan perawatan pascahenti. Bila tetap tanpa nadi: lanjutkan siklus 2 menit yang sesuai.
Rincian henti jantung dewasa
| RJP | 100–120/min; 5–6 cm; recoil sempurna; 30:2 tanpa jalan napas lanjut; minimalkan jeda; perbaiki RJP bila ETCO₂ <10 mmHg. |
| Kejut | Bifasik sesuai rekomendasi produsen, contoh 120–200 J; bila tidak diketahui gunakan maksimum yang tersedia dan pertimbangkan eskalasi. Monofasik 360 J. |
| Epinefrin | 1 mg IV/IO sesegera mungkin saat diindikasikan, kemudian setiap 3–5 min. |
| Amiodaron | Bolus 300 mg IV/IO, kemudian 150 mg. |
| Lidokain | 1–1.5 mg/kg, kemudian 0.5–0.75 mg/kg. |
| Jalan napas lanjut | Supraglotis atau ET; pastikan dengan tidak adanya suara epigastrium, suara napas bilateral, visualisasi, dan ETCO₂ kuantitatif; ventilasi 10/min dengan kompresi kontinu. |
| Tanda ROSC | Nadi/TD; peningkatan PETCO₂ mendadak dan menetap, biasanya ≥40 mmHg; gelombang tekanan arteri spontan. |
Sumber menekankan pemberian epinefrin lebih dini pada irama yang tidak dapat dikejut, sementara RJP dan defibrilasi diprioritaskan sebelum epinefrin pada irama awal yang dapat dikejut.
Perawatan Pascahenti Jantung
VOMIT: pertahankan mnemonik sumber untuk Vital signs (tanda vital), Oxygen/airway (oksigen/jalan napas), Myocardial infarction/PCI center (infark miokard/pusat PCI), IV fluids/infusions (cairan/infus IV), dan Temperature control (pengendalian suhu) pada pasien tidak respons.
Jalan napas dan pernapasan
- Pasang jalan napas lanjut secara dini sesuai kebutuhan; kapnografi gelombang memastikan ETT.
- Mulai dengan 10 napas/min.
- Target SpO₂ 92–98% dalam algoritme.
- PaCO₂ 35–45 mmHg.
Hemodinamik
- SBP >90 mmHg; MAP >65 mmHg.
- Berikan 1–2 L salin normal atau Lactated Ringer’s kecuali terdapat kontraindikasi.
- Dopamin/norepinefrin dijelaskan sebagai vasopresor pilihan di luar henti jantung; vasopresin/fenilefrin sebagai agen kedua; epinefrin untuk hipotensi berat atau lini terakhir.
Dosis infus segera pascahenti
| Epinefrin | 0.1–0.5 mcg/kg/min | Dopamin | 5–10 mcg/kg/min |
| Norepinefrin | 0.1–0.5 mcg/kg/min | Cairan | 1–2 L NS atau LR |
ROSC
→Jalan napas + SpO₂ 92–98% + PaCO₂ 35–45
→SBP >90 · MAP >65
EKG 12 sadapan
→Intervensi jantung darurat untuk STEMI, syok kardiogenik tidak stabil, atau kebutuhan dukungan mekanis
Mengikuti perintahTatalaksana perawatan kritis lain
KomaPengendalian suhu, CT otak, EEG, perawatan kritis
Pengendalian suhu menggunakan 32–37.5°C selama sedikitnya 24 jam dengan alat berumpan balik. Lanjutkan pemantauan suhu inti, pemeriksaan neurologis/GCS dan pupil, elektrolit/glukosa, foto toraks, dan ekokardiografi bila diindikasikan.
Bradikardia Bergejala
Bradikardia adalah <60/min, tetapi algoritme terapi biasanya relevan pada <50/min dengan perfusi buruk. Bradikardia sinus pada atlet dapat normal. Gejala meliputi hipotensi, perubahan status mental, syok, rasa tidak nyaman dada iskemik, gagal jantung akut/edema paru, dispnea, kelemahan, pusing, atau kepala terasa ringan.
Pengenalan bradiaritmia
| Irama | Keteraturan / frekuensi | P / PR / QRS |
| Bradikardia sinus | Reguler; <60, biasanya >40 | Satu P seragam per QRS; PR 0.12–0.20 sec; QRS <0.12 sec |
| Blok derajat 1 | Reguler; mengikuti frekuensi dasar | Satu P per QRS; PR >0.20 sec dan konstan; QRS sempit |
| Mobitz I | Iregularitas berpola | PR memanjang progresif hingga QRS hilang; QRS biasanya <0.12 sec |
| Mobitz II | Reguler dengan rasio konduksi konstan, selain itu ireguler | PR konstan pada denyut yang terkonduksi; sebagian gelombang P tidak diikuti QRS; QRS dapat sempit |
| Blok derajat 3 | P–P dan R–R reguler tetapi independen | Atrium 60–100; escape junctional 40–60 atau ventrikel 20–40; QRS sering memanjang |
Pertahankan jalan napas · Oksigen bila hipoksemia · Monitor · TD/SpO₂ · IV · EKG 12 sadapan · Tangani penyebab
Tidak ada instabilitas persistenPantau dan observasi
Hipotensi / perubahan mental / syok / nyeri dada / gagal jantung akutAtropin 1 mg IV, ulang q3–5 min, maks 3 mg
Bila tidak efektif: pacu jantung transkutan ATAU dopamin 5–20 mcg/kg/min ATAU epinefrin 2–10 mcg/min
→Konsultasi ahli dan pacu jantung transvena
Konflik sumber · dosis bradikardiaAlgoritme utama menggunakan atropin 1 mg dan dopamin 5–20 mcg/kg/min. Prosa berikutnya menggunakan dosis lama atropin 0.5 mg dan dopamin 2–20 mcg/kg/min. Satu baris algoritme juga mencetak epinefrin sebagai mcg/kg/min meskipun kotak dosisnya menyatakan 2–10 mcg/min.
Takikardia dengan Nadi
Takikardia adalah >100/min; frekuensi ≥150/min lebih mungkin menimbulkan gejala. Tentukan apakah irama itu sendiri menyebabkan hipotensi, perubahan status mental akut, syok, rasa tidak nyaman dada iskemik, atau gagal jantung akut.
Jalan napas · Oksigen bila hipoksemia · Monitor · TD/SpO₂ · IV · EKG 12 sadapan · Tangani penyebab
Tidak stabilKardioversi tersinkronisasi; berikan sedasi bila memungkinkan. Pertimbangkan adenosin untuk kompleks sempit reguler selama persiapan.
StabilNilai lebar QRS ≥0.12 sec dan keteraturan
Sempit regulerManuver vagal → adenosin 6 mg, lalu 12 mg
Sempit iregulerBeta-blocker atau calcium-channel blocker; konsultasi
Lebar reguler monomorfikPertimbangkan adenosin; prokainamid, amiodaron, atau sotalol; konsultasi ahli
Lebar iregulerDosis defibrilasi tidak tersinkronisasi; magnesium bila torsades
Energi dan infus takikardia
| Situasi | Dosis sumber | Catatan |
| Kardioversi sempit reguler | 50–100 J | Tersinkronisasi |
| Kardioversi sempit ireguler | Bifasik 120–200 J atau monofasik 200 J | Tersinkronisasi |
| Kardioversi lebar reguler | 100 J | Tersinkronisasi |
| Lebar ireguler | Dosis defibrilasi | Tidak tersinkronisasi |
| Adenosin | 6 mg IV cepat + bilas; lalu 12 mg | Irama reguler; hati-hati pada asma/bronkospasme |
| Prokainamid | 20–50 mg/min; maks 17 mg/kg; pemeliharaan 1–4 mg/min | Hentikan bila hipotensi atau QRS +50%; hindari QT memanjang/CHF |
| Amiodaron | 150 mg selama 10 min; pemeliharaan 1 mg/min selama 6 hr pertama | Ulangi bila VT berulang |
| Sotalol | 100 mg (1.5 mg/kg) selama 5 min | Hindari QT memanjang |
| Diltiazem untuk dugaan AF | 15–20 mg (0.25 mg/kg) IV selama 2 min | Kontrol laju; pertimbangkan beta-blocker |
| Magnesium untuk torsades | 1–2 g IV; dapat dilanjutkan 0.5–1 g selama 60 min | Untuk torsades kompleks lebar ireguler |
Takikardia sinus bersifat reguler, biasanya <150/min, dengan satu P sebelum setiap QRS sempit; tangani proses yang mendasari. Flutter atrium memiliki gelombang P berbentuk gigi gergaji pada 250–350 atrial/min. Fibrilasi atrium bersifat ireguler tidak teratur, tidak memiliki gelombang P diskret, dan dianggap “terkontrol” pada frekuensi ventrikel 60–100 atau RVR di atas 100.
Sindrom Koroner Akut
ACS mencakup angina tidak stabil, NSTEMI, dan STEMI. Gambaran khas meliputi nyeri dada seperti tertindih, dispnea, penjalaran ke rahang/lengan/bahu, diaforesis, mual, atau muntah; perempuan dan pasien diabetes dapat datang dengan gejala atipikal.
Intervensi awal dalam sumber
| Oksigen | Gambar awal: kanul nasal 4 L/min, titrasi hingga 94–99%. Algoritme berikutnya: oksigen bila saturasi <94%; teks penjelasan: di bawah 90% atau terdapat distres napas. |
| Aspirin | 160–325 mg tanpa salut enterik, dikunyah, kecuali terdapat alergi/kontraindikasi. |
| Nitrogliserin | 0.3–0.4 mg SL/semprot dengan interval 3–5 min pada gambar; teks berikutnya menyatakan setiap 5 min hingga 3 dosis. Hindari bila SBP <90 atau baru menggunakan inhibitor PDE-5, dan gunakan hati-hati pada MI inferior/RV. |
| Morfin | 1–5 mg IV hanya bila gejala menetap/berulang meskipun sudah mendapat nitrat; pantau TD. |
| EKG / akses | EKG 12 sadapan; sedikitnya dua IV antekubital berdiameter besar; beri notifikasi dan bawa ke pusat PCI pada dugaan STEMI. |
Variasi sumber · ambang oksigen ACSHandbook memuat ambang 94–99%, <94%, dan <90% pada bagian ACS yang berbeda. Setiap nilai dipertahankan sebagaimana tertulis.
≤10 minEKG 12 sadapan setelah tiba
<30 minFoto toraks; target door-to-needle
<90 minTarget door-to-balloon PCI
≤12 hrJendela reperfusi utama STEMI dalam sumber
ABC · kesiapan RJP/defibrilasi · aspirin · nitro · morfin bila perlu · oksigen bila diindikasikan · EKG 12 sadapan
STEMI / LBBB baruJangan menunda reperfusi. Bila onset ≤12 hr: fibrinolisis <30 min atau PCI <90 min.
NSTE-ACS risiko tinggiStrategi invasif dini untuk VT, gagal jantung, instabilitas, nyeri refrakter, atau deviasi ST persisten/berulang.
Normal/tidak diagnostikUnit nyeri dada, troponin serial dan pemantauan EKG/ST, pemeriksaan noninvasif; pulangkan hanya bila infark/iskemia telah disingkirkan.
Terapi tambahan meliputi heparin (UFH atau LMWH), clopidogrel, kemungkinan inhibitor glikoprotein IIb/IIIa, statin, inhibitor ACE/ARB, dan beta-blocker oral terpilih. Troponin meningkat atau ciri risiko tinggi lain mendukung perawatan dengan pemantauan dan tindakan invasif dini.
Stroke Akut
Stroke iskemik mencakup sekitar 87% dan stroke hemoragik 13% dalam sumber. Manifestasi meliputi kelemahan atau baal unilateral pada wajah/lengan/tungkai, kehilangan penglihatan, gangguan bicara, kesulitan berjalan/keseimbangan, kebingungan, mual/muntah, perubahan kesadaran, dan nyeri kepala hebat—terutama pada stroke hemoragik.
Cincinnati Prehospital Stroke ScalePenurunan wajah baru, penurunan lengan (arm drift), atau gangguan bicara memberikan probabilitas sekitar 72% untuk stroke iskemik bila satu tanda ditemukan dan >85% bila ketiganya ditemukan.
10 minPenilaian IGD / aktivasi tim stroke
25 minCT selesai / penilaian neurologis
45 minCT diinterpretasi
60 minKeputusan/pemberian fibrinolitik
3 hrJendela standar tPA
4.5 hrPasien terpilih usia 18–79
6 hrtPA intraarterial terpilih dalam sumber
180 minTarget masuk unit stroke yang ditampilkan
- Dukung ABC, berikan oksigen bila hipoksemia, periksa glukosa (hipoglikemia dapat menyerupai stroke), pasang dua IV berdiameter besar, tentukan waktu terakhir diketahui normal secara tepat, terapkan kewaspadaan kejang, dan beri notifikasi awal ke pusat stroke.
- Lakukan FAST/CPSS atau NIH Stroke Scale serta CT/MRI nonkontras darurat untuk membedakan iskemia dari perdarahan.
- Pertahankan semua pasien stroke akut tetap NPO hingga skrining menelan di sisi tempat tidur.
- Bila iskemik dan bukan kandidat fibrinolitik, berikan aspirin kecuali benar-benar alergi. Setelah fibrinolisis, pantau perdarahan secara ketat dan hindari antiplatelet/antikoagulan selama 24 jam pada jalur yang ditampilkan.
Skrining fibrinolitik dalam sumber
| Eksklusi absolut yang ditampilkan | Eksklusi relatif yang ditampilkan | Kriteria inklusi yang ditampilkan |
| Trauma kepala atau stroke dalam 3 bulan terakhir; perdarahan subaraknoid; pungsi arteri dalam 7 hari; riwayat ICH; perdarahan aktif; heparin dalam 2 hari; INR meningkat; hipoglikemia; infark multilobus luas; trombosit <100,000/mm³. |
Gejala sangat ringan/membaik; kejang yang memengaruhi pemeriksaan; operasi/trauma dalam 14 hari; perdarahan mayor dalam 21 hari; MI dalam 3 bulan. |
Onset dalam 3 jam kecuali kondisi khusus; usia ≥18; stroke iskemik dengan defisit; TD <185/110 mmHg. |
Penilaian Mandiri Kasus ACLS
Tinjau seluruh 12 soal dan jawaban sumber
- Setelah kejut: lanjutkan kompresi dada selama 2 menit.
- Impuls normal berasal dari nodus SA.
- Urutan: nodus SA → nodus AV → berkas His → serabut Purkinje.
- QRS menggambarkan kontraksi/depolarisasi ventrikel.
- Monitor ventilasi yang direkomendasikan: kapnografi gelombang kuantitatif.
- IV gagal pada henti jantung: dapatkan akses IO.
- Takikardia sinus 135/min: tentukan dan tangani penyebab yang mendasari.
- SVT tidak stabil (80/50, rasa tidak nyaman dada, presinkop): kardioversi tersinkronisasi.
- Setelah VF berubah menjadi blok AV derajat 3: pacu jantung transkutan.
- Infark multilobus lebih dari sepertiga hemisfer: terapi trombolitik dikontraindikasikan.
- Data stroke penting: waktu terakhir terlihat normal.
- Penilaian IGD 10 menit, evaluasi neurologis 25 menit, CT dibaca pada 45 menit: Benar.
8
Pokok Penting ACLS
Handbook hlm. 95
- Kenali henti jantung segera; berikan RJP berkualitas tinggi dan defibrilasi dini.
- Siapkan diri secara mental saat mendekati pasien dan jangan pernah mengorbankan keamanan lokasi.
- Jangan memasang OPA pada pasien sadar; angkat rahang ke dalam masker.
- Utamakan pemberian obat melalui IV/IO; pemberian melalui ET tidak dianjurkan dan tidak dapat diprediksi.
- Dosis amiodaron berbeda antara VF/VT tanpa nadi dan VT dengan nadi.
- Segera lanjutkan kompresi setelah kejut.
- Gunakan pengendalian suhu setelah ROSC bila diindikasikan.
- Kenali takikardia sinus, SVT, AF/flutter, VF, VT, torsades, asistol, dan blok.
- Pastikan asistol pada dua sadapan; VF dan VT tanpa nadi sama-sama dapat dikejut.
- Selalu pertimbangkan H dan T.
- Gunakan kapnografi; PETCO₂ <10 mmHg menandakan perlunya memperbaiki RJP/jalan napas.
- Gunakan nitrogliserin dengan hati-hati pada MI inferior; hindari bila SBP <90 atau baru menggunakan inhibitor PDE-5.
- Kebingungan dapat menjadi tanda awal stroke.
9
Alat Tambahan
Handbook hlm. 96
MediCode
Sumber mempromosikan koleksi seluler algoritme BLS, ACLS, PALS, RJP/AED, dan pertolongan pertama dengan beberapa tampilan serta pilihan berbagi, yang ditujukan untuk menggantikan kartu referensi lipat.
CertAlert+
Sumber mempromosikan penyimpanan foto dan tanggal lisensi/sertifikasi, pemilihan pengingat kedaluwarsa, ekspor informasi melalui surel, serta akses ke tautan pendaftaran/sertifikasi ulang.
10
Soal Review ACLS
Handbook hlm. 97–100
Review jawaban 19 soal
- Survei ACLS: Jalan Napas, Pernapasan, Sirkulasi, Diagnosis Banding.
- Fokus henti jantung: RJP efektif dan defibrilasi dini.
- Bukan jalan napas lanjut: alat jalan napas orofaring (OPA).
- Hiperventilasi: peningkatan tekanan intratoraks dan penurunan aliran balik vena.
- Irama normal dimulai dari nodus SA.
- RJP berkualitas tinggi: 100–120/min pada kedalaman 5–6 cm.
- Rasio dewasa sebelum jalan napas lanjut: 30:2.
- Segera setelah kejut VF: lanjutkan RJP.
- Kejut monofasik: 360 J.
- Jawaban sumber untuk hipotensi pascahenti: dopamin.
- Tidak digunakan untuk VF/VT tanpa nadi persisten: atropin.
- Bukan penyebab PEA yang tercantum dalam sumber: hiperventilasi.
- Dapat dikejut: VF, VT tanpa nadi, dan torsades tanpa nadi (semuanya).
- Obat reperfusi ACS: terapi fibrinolitik.
- Bukan irama bradikardia: fibrilasi atrium.
- Akses henti jantung yang diutamakan dalam kunci jawaban: IV perifer.
- Rangkaian lini pertama ACS dalam sumber: morfin, aspirin, dan nitrogliserin (semuanya).
- Bukan tanda klasik stroke akut: kejang.
- Bukan salah satu 8 D: defibrilasi.
Materi penutup sumberHandbook ditutup dengan informasi mengenai Disque Foundation dan Save a Life Initiative, yang bertujuan memperluas pendidikan layanan kesehatan tingkat lanjut gratis bagi populasi yang kurang terlayani.
Bagian II · Bahasa Indonesia
Materi Mediko 2026
Seluruh modul utama, skenario klinis, tabel obat, algoritme dewasa dan anak, serta soal latihan dengan label asli sumber.
EKG
Pengenalan Irama EKG
Materi Mediko slide 3–22
Pembacaan EKG dilakukan sistematis: ritme, frekuensi jantung, aksis, gelombang P, interval PR, kompleks QRS, segmen ST–T, dan gelombang Q.
Komponen dasar EKG
| Gelombang P | Depolarisasi atrium kanan dan kiri | Segmen PR | Garis isoelektrik antara P dan QRS |
| Kompleks QRS | Depolarisasi ventrikel kanan dan kiri | Segmen ST | Garis isoelektrik antara QRS dan T |
| Gelombang T | Repolarisasi ventrikel kanan dan kiri | Gelombang U | Materi menyebut repolarisasi atria; kecil dan sering tidak dikenali/terbenam dalam QRS |
0,04 dtk1 kotak kecil horizontal
0,1 mV1 kotak kecil vertikal
5 × 5Kotak kecil dalam 1 kotak besar
60–100Frekuensi jantung normal
Ritme dan frekuensi jantung
Asal ritme
- Sinus: dua gelombang di antara kompleks QRS menurut slide; reguler.
- Atrial: P sulit diidentifikasi pada fibrilasi atau berbentuk gergaji pada flutter.
- Ventrikel: tidak ada P, QRS lebar.
- Junctional: P hilang, terbalik, atau muncul setelah QRS.
Hitung laju
- Reguler: 300 ÷ kotak besar antara R–R atau 1500 ÷ kotak kecil.
- Ireguler: jumlah R dalam 6 detik ×10; laporkan juga rentang dari R–R terpanjang hingga terpendek.
- Takikardia >100; normal 60–100; bradikardia <60/menit.
Medikologic · “Hukum kupu-kupu malam”1 gelombang di antara R–R → SVT; 2 → sinus; >3 reguler → flutter, >3 ireguler → fibrilasi atrium; QRS lebar reguler seragam → VT monomorfik; bentuk berubah/ireguler → VT polimorfik/torsades; P/QRS/T tidak dapat diidentifikasi → VF.
Aksis dan sadapan
Aksis berdasarkan sadapan I, aVF, dan II
| Sadapan I | aVF | Sadapan II | Interpretasi |
| + | + | — | Normal |
| + | − | + | Normal |
| + | − | − | Deviasi aksis kiri |
| − | + | — | Deviasi aksis kanan |
| − | − | — | Aksis ekstrem |
EKG 12 sadapan: lokasi dan pembuluh darah
| V1–V2 | Anteroseptal | LAD |
|---|
| V3–V4 | Anterior | LAD |
|---|
| II, III, aVF | Inferior | RCA |
|---|
| I, aVL, V5, V6 | Lateral | LCX |
Hipertrofi, interval, infark, dan elektrolit
Hipertrofi ventrikel
- RVH: S persisten di V5–V6.
- LVH: R V5/V6 >27 mm; S V1 + R V5/V6 >35 mm; strain berupa depresi ST di V5–V6.
Hipertrofi atrium
- P normal: panjang ≤0,12 dtk, tinggi <2,5 mm limb dan <1,5 mm prekordial.
- P mitral: lebar >0,12 dtk, seperti M—LAH.
- P pulmonal: tinggi >2,5 mm limb atau >1,5 mm prekordial—RAH.
Kriteria ST elevasi
| Kelompok | V2–V3 | Sadapan lain / tambahan |
| Laki-laki <40 tahun | >2,5 mm | >1 mm |
| Laki-laki ≥40 tahun | >2 mm | >1 mm |
| Wanita semua usia | >1,5 mm | >1 mm |
| Sadapan kanan/posterior | >0,5 mm dianggap signifikan |
- ST depresi: iskemia; penurunan >0,5 mm pada ≥2 sadapan berdekatan. ST elevasi: infark/nekrosis, sumbatan total.
- PR normal 0,12–0,20 detik (3–5 kotak kecil); <0,12 pre-eksitasi, >0,20 blok.
- Q normal <2 mm; Q patologis >2 mm dan mengarah pada riwayat infark menurut materi.
- Hipokalemia: U prominen, T mendatar/inversi, ST depresi, PR memanjang. Hiperkalemia: T tinggi lancip, QRS melebar menyatu dengan T, P melandai/hilang.
PAC, PVC/VES, dan bundle branch block
PAC memiliki P abnormal diikuti QRS normal. PVC/VES asimtomatik cukup diberi penenangan; bila simptomatik koreksi elektrolit (terutama Mg/K), pertimbangkan verapamil/diltiazem, beta-blocker, amiodaron, atau ablasi radiofrekuensi. RBBB: pola rSR′/“M”, inversi T, S lebar (MoRRoW). LBBB: S dominan dan R bertakik/“M” (WiLLiaM); LBBB onset baru dengan nyeri dada kiri diperingatkan sebagai tanda IMA/ACS.
Irama henti dan non-henti jantung
VF
Aktivitas kacau; P, QRS, dan T tidak teridentifikasi.
VT tanpa nadi
QRS lebar cepat tanpa nadi; monomorfik atau polimorfik.
PEA
Aktivitas listrik tanpa nadi.
Asistol
Tidak ada aktivitas listrik bermakna.
Bukan henti jantung
Sinus takikardia, fibrilasi/flutter atrium, SVT, VT dengan nadi, torsades, sinus bradikardia, dan blok AV memerlukan penilaian nadi dan stabilitas.
BLS
Bantuan Hidup Jantung Dasar
Materi Mediko slide 23–31
Amankan lokasi · Nilai respons · Teriak minta bantuan · Aktifkan sistem · Ambil AED
Nilai napas dan nadi bersamaan ≤10 detik
Napas & nadi normalPantau hingga tenaga terlatih tiba
Napas abnormal, nadi ada1 napas tiap 5–6 detik; cek nadi tiap 2 menit; nalokson bila overdosis opioid
Tidak bernapas/gasping, nadi tidak adaRJP 30:2; pasang AED segera
Dapat dikejut1 kejut → RJP 2 menit
Tidak dapat dikejutRJP 2 menit
Rekomendasi BHJD
| Komponen | Dewasa | Anak | Bayi |
| Pengenalan | Tidak sadar; tidak bernapas normal/gasping; nadi tidak teraba ≤10 dtk | Tidak sadar; tidak bernapas/gasping; nadi tidak teraba ≤10 dtk |
| Urutan | C–A–B |
| Frekuensi | 100–120/menit |
| Kedalaman | 5–6 cm | ≥⅓ diameter AP, sekitar 5 cm | ≥⅓ diameter AP, sekitar 4 cm |
| Rasio | 30:2 (1 atau 2 penolong) | 30:2 satu; 15:2 dua | 30:2 satu; 15:2 dua |
| Recoil/interupsi | Recoil sempurna; ganti kompresor tiap 2 menit; interupsi sesingkat mungkin dan ≤10 detik |
| Jalan napas | Ekstensi kepala-angkat dagu (head tilt–chin lift); dorong rahang (jaw thrust) bila tenaga kesehatan mencurigai trauma leher |
| Jalan napas lanjut/ROSC | Napas tiap 6 detik (10/menit) dengan kompresi kontinu; ROSC juga 1 napas tiap 6 detik |
DefibrilasiTempelkan AED sesegera mungkin. Minimalkan interupsi sebelum dan sesudah kejut; lanjutkan RJP segera, dimulai dengan kompresi.
A
Tatalaksana Jalan Napas
Materi Mediko slide 32–50
Sumbatan jalan napas oleh benda asing
Kenali keparahan sumbatan
| Tanda | Sumbatan sedang / batuk efektif | Sumbatan berat / batuk tidak efektif |
| Respons | Mengangguk, bicara, respons verbal penuh | Tidak mampu bicara/bersuara |
| Batuk/napas | Batuk keras, dapat menarik napas sebelum batuk | Batuk tanpa suara, sulit/tidak dapat bernapas, sianosis, dapat menjadi tidak sadar |
Batuk efektifDorong batuk dan cek terus sampai sumbatan teratasi atau memburuk
Dewasa sadar, batuk tidak efektif5 hentakan abdomen
Anak sadar5 pukulan punggung (back blows) + 5 hentakan: dada untuk bayi, abdomen untuk anak >2 tahun
Tidak sadarMulai RJP, buka jalan napas, lakukan finger sweep hanya bila benda tampak
Pedoman terapi oksigen
Aliran dan perkiraan FiO₂ menurut materi
| Alat | Aliran | % O₂ | Pemilihan menurut SpO₂ |
| Kanul nasal | 1 / 2 / 3 / 4 / 5 L/menit | 21–24 / 25–28 / 29–32 / 33–36 / 37–40% | SpO₂ 95–100%: kanul maksimal 4 L/menit |
| Sungkup sederhana | 6–10 L/menit | 35–60% | SpO₂ 90–94%: 6–10 L/menit |
| Sungkup reservoir | 6 / 7 / 8 / 9 / 10–15 L/menit | 60 / 70 / 80 / 90 / 95–100% | SpO₂ 85–89%: 10–15 L/menit |
| Venturi | 4–8 atau 10–15 L/menit | 24–25 atau 40–50% | — |
| Ventilasi tekanan positif | O₂ 100% | 100% | SpO₂ <85%, hipoksia mengancam nyawa |
Pembukaan dan pemeliharaan jalan napas atas
Jalan napas tidak patenNapas berbunyi, tarikan otot leher, atau retraksi pada suprasternal notch, iga, dan bawah diafragma.
Manual
Ekstensi kepala-angkat dagu (head tilt–chin lift); bila curiga cedera servikal gunakan dorong rahang (jaw thrust) dan pertahankan imobilisasi.
OPA / NPA
OPA hanya pada pasien tidak sadar tanpa refleks batuk/muntah. NPA dapat digunakan pada pasien sadar atau setengah sadar.
Bag-mask
Indikasi: henti napas, napas spontan tidak adekuat, mengurangi kerja napas dengan tekanan positif, dan hipoksia akibat ventilasi yang tidak adekuat. Gunakan penjepit C–E.
Intubasi / LMA
ETT bila henti jantung dengan BVM tidak efektif, gagal napas/hipoksia gagal terapi noninvasif, atau pasien tidak mampu mempertahankan jalan napas. LMA bila ventilasi BVM tidak dapat diberikan atau pada henti napas/jantung.
Premedikasi anestesi yang dicantumkan
- Benzodiazepin (diazepam, lorazepam, midazolam): ansiolitik, sedasi, amnesia anterograd.
- Antikolinergik (atropin, glikopirolat, difenhidramin, dimenhidrinat): mengurangi sekresi saliva dan refleks vagal.
- Antiemetik (metoklopramid, ondansetron), profilaksis aspirasi (metoklopramid, natrium sitrat), antihistamin H1, dan opioid (fentanil, morfin) sesuai risiko/indikasi.
Posisi dan verifikasi ETT
Pada cedera servikal gunakan penyangga leher, penyangga lateral/papan spinal, dan imobilisasi segaris manual. Leher pendek/obesitas memerlukan posisi sniffing, ramped, atau modifikasi ramped. Verifikasi posisi dengan ekspansi dada, auskultasi epigastrium + lapang paru atas dan bawah kanan-kiri, detektor end-tidal CO₂, atau detektor esofagus.
1 detikDurasi tiap ventilasi
10/minRJP, tiap 6 detik
12/minHenti napas tanpa henti jantung, tiap 5 detik
Dada terangkatVolume hanya hingga dada terangkat
Ventilasi mekanik dan NIV
Meningkatkan oksigenasi
Naikkan FiO₂ atau PEEP, perpanjang waktu inspirasi, dan tingkatkan volume tidal atau tekanan inspirasi.
Meningkatkan eliminasi CO₂
Naikkan volume tidal atau frekuensi napas dan kurangi ruang mati.
Mode dasar ventilasi
| Mode | Pengaturan awal | Deskripsi |
| VC-CMV | Volume tidal | Semua napas sama; dipicu pasien atau waktu |
| PC-CMV | Tekanan inspirasi | Semua napas sama; dipicu pasien atau waktu |
| VC-IMV | VT + napas spontan | Napas wajib sama, napas spontan bervariasi |
| PC-IMV | Tekanan inspirasi | Napas wajib sama, napas spontan bervariasi; dapat ditambah PSV/PEEP |
Pengaturan awal materiFiO₂ mulai 1,0 lalu dititrasi untuk PaO₂ 60–90 mmHg dan SpO₂ 90–98%; frekuensi 12/menit; VT 8 mL/kg prediksi berat badan; PEEP 5 cmH₂O; I:E umumnya 1:2. Pantau Ppeak, alarm tekanan tinggi, batasan tekanan, pemicu pasien, grafik Paw, gambaran paru dinamis, dan status alarm.
NIV adalah ventilasi mekanik tanpa ETT untuk hipoventilasi neuromuskular dan gagal napas akut. Indikasi materi: gagal napas hiperkapnik/hipoksemik, edema paru akut, pneumonia, kelemahan otot napas (GBS/MG), dan kondisi pascaekstubasi yang berisiko memerlukan reintubasi. Efek: memperbaiki ventilasi alveolar/asidosis/hiperkapnia, membuka alveolus kolaps dan menaikkan FRC, serta mengurangi kerja otot napas.
CA
Henti Jantung Dewasa
Materi Mediko slide 51–59
RJP berkualitas tinggi · “CEK KOKI”CEgah hiperventilasi; Kompresi 30:2; Kecepatan 100–120/menit; Optimal recoil; Kedalaman 5–6 cm; Interupsi minimal.
Energi dan obat
- Bifasik 120–200 J; monofasik 360 J.
- Epinefrin 1 mg IV/IO tiap 3–5 menit.
- Amiodaron 300 mg lalu 150 mg; atau lidokain 1–1,5 mg/kg lalu dosis kedua sebagaimana konflik di bawah.
- Jalan napas lanjut: ETT atau supraglotis; 1 napas tiap 6 detik dengan kompresi kontinu.
Konflik sumber · lidokainRingkasan algoritme mencetak dosis kedua lidokain 0,05–0,75 mg/kg; tabel obat berikutnya mencetak 0,5–0,75 mg/kg. Keduanya dipertahankan sebagai konflik sumber.
Mulai RJP · O₂ · Monitor/defibrilator · Akses IV/IO
VF / pVTDefibrilasi segera → RJP 2 menit → epinefrin q3–5 menit → kejut berikutnya → amiodaron/lidokain
PEA / asistolRJP 2 menit → epinefrin segera dan q3–5 menit → evaluasi ritme dan penyebab reversibel
Setiap siklus: kompresi berkualitas, kapnografi bila menggunakan jalan napas lanjut, dan koreksi 5H/5T
5H dan 5T beserta tatalaksana
| Penyebab | Tatalaksana sumber |
| Hipovolemia | Kristaloid isotonik; transfusi darah |
| Hipotermia | Penghangatan |
| Hipokalemia / hipomagnesemia | Suplementasi kalium / magnesium |
| Hiperkalemia | Kalsium klorida/glukonas, natrium bikarbonat, nebulisasi albuterol, sodium polystyrene sulfonate atau diuretik; ringkasan lain menyebut insulin + D50 + NaHCO₃ |
| H⁺ / asidosis | Atasi penyebab; pertimbangkan bikarbonat pada asidosis metabolik berat; ventilasi |
| Hipoksemia | Oksigen adekuat; ventilasi mekanik bila perlu |
| Tension pneumothorax | Torakostomi jarum lalu chest tube |
| Trombosis infark miokard | Revaskularisasi koroner: PCI/fibrinolitik; antikoagulan |
| Toksin | Antidotum spesifik |
| Trombosis emboli paru | Antikoagulan; pertimbangkan fibrinolitik/trombektomi; ringkasan menyebut alteplase + RJP |
| Tamponade jantung | Perikardiosintesis |
Skenario klinis sumberLaki-laki 60 tahun dengan STEMI anterior tiba-tiba gelisah lalu tidak sadar: lakukan tatalaksana ACLS, farmakoterapi/nonfarmakoterapi, komunikasi, dan edukasi.
ROSC
Perawatan Pasca Henti Jantung
Materi Mediko slide 53–57
Pasien yang kembali memiliki sirkulasi spontan tetap berisiko tinggi, terutama dalam 24 jam pertama.
ROSC
→Kelola jalan napas; ETT bila indikasi; cari sumbatan; lakukan pengisapan; kapnografi
RR mulai 10/min · VT 6–8 mL/kg · SpO₂ 92–98%
→SBP >90 · MAP >65 · Foto toraks
→EKG 12 sadapan
Intervensi jantung bila STEMI, syok kardiogenik tidak stabil, atau perlu dukungan mekanis
Sadar / mengikuti perintahPerawatan kritis lain
Tidak sadarTTM 32–36°C selama 24 jam, CT kepala, EEG, perawatan kritis
- Prioritaskan TTM segera dengan alat pendingin berumpan balik; monitor suhu inti kontinu di esofagus, rektum, atau kandung kemih.
- Pertahankan normoksia, normokapnia, euglikemia, ventilasi protektif paru, dan EEG kontinu/intermiten.
- Evaluasi 5H/5T dan konsultasikan ahli untuk manajemen berkelanjutan.
Perbedaan antar sumberMediko menetapkan TTM 32–36°C selama 24 jam, sedangkan handbook menyatakan 32–37,5°C selama minimal 24 jam.
T
Takikardia
Materi Mediko slide 60–74
Takikardia adalah HR >100/menit; takiaritmia ekstrem yang menimbulkan keluhan umumnya ≥150/menit. Tanda tidak stabil diringkas sebagai NIH PAS: Nyeri dada, Iskemik, Hipotensi, Penurunan kesadaran, Akut gagal jantung, Syok.
Pertahankan jalan napas · Bantu napas · O₂ sesuai indikasi · Monitor · TD/SpO₂ · IV · EKG 12 sadapan
Tidak stabilKardioversi tersinkronisasi; sedasi bila memungkinkan; adenosin dapat dipertimbangkan bila kompleks sempit reguler
StabilNilai lebar QRS dan keteraturan
Sempit teraturManuver vagal → adenosin → CCB/beta-blocker
Sempit tidak teraturKontrol laju
Lebar teratur/monomorfikAdenosin atau infus antiaritmia; konsultasi
Lebar tidak teraturDosis defibrilasi, tidak tersinkronisasi
50–100 JSempit reguler
120–200 JSempit ireguler bifasik
200 JSempit ireguler monofasik
100 JLebar reguler
Manuver vagal
- Pijat sinus karotis: pastikan tidak ada riwayat MI, TIA/stroke 3 bulan, VF/VT, atau bruit karotis; pasang monitor; pasien telentang, kepala ekstensi dan berpaling kontralateral; pijat sirkular satu sisi 5–10 detik, dapat mencoba sisi lain bila gagal.
- Diving reflex: setelah duduk nyaman 1–3 menit dan beberapa napas dalam, tahan napas dan benamkan wajah dalam air; hanya bila aman dari aspirasi.
- Valsalva: telentang, inspirasi dalam dan meniup glotis tertutup atau spuit 10 mL selama 10–15 detik. Anak dapat meniup sedotan tersumbat/ibu jari. Takipnea/dispnea relatif kontraindikasi.
- Modified Valsalva: mulai duduk tegak, meniup, lalu segera telentang sambil kaki diangkat 45–90°/lutut ke dada; pertahankan 45–60 detik.
Obat takiaritmia
Dosis dan perhatian utama
| Obat | Indikasi | Dosis sumber |
| Lidokain IV | Alternatif pada henti jantung VF/VT; VT stabil | 1–1,5 mg/kg bolus; refrakter 0,5–0,75 mg/kg tiap 10–15 min, maksimal 3 kali atau total 3 mg/kg; ETT 2–4 mg/kg; VT stabil 0,5–0,7 mg/kg |
| Amiodaron IV | Henti jantung VF/VT; VT stabil | Henti jantung 300 mg dalam 20–30 mL D5%, lalu 150 mg 3–5 min; stabil 150 mg 5–10 min, dapat ulang; maksimal 2,2 g/24 jam; dosis pemeliharaan 360 mg/6 jam lalu 540 mg/18 jam |
| Metoprolol IV | Lini kedua SVT; kontrol laju AF; antiangina | 5 mg IV lambat tiap 5 min hingga 3 dosis; oral 25–50 mg tiap 6–12 jam, titrasi sampai 200 mg/hari. Sumber menyebut sediaan IV belum tersedia di Indonesia. |
| Verapamil IV | Lini kedua SVT; kontrol laju AF | 2,5–5 mg selama 2 min (3 min lansia), lalu 5–10 mg setelah 15–30 min; maksimal 20 mg |
| Diltiazem IV | Lini kedua SVT; kontrol laju AF | 15–20 mg (0,25 mg/kg) selama 2 min; ulang 20–25 mg setelah 15 min; dosis pemeliharaan 5–15 mg/jam |
| Adenosin IV / ATP | Lini pertama SVT | Posisi mild reverse Trendelenburg; akses antekubiti dengan three-way; 6 mg (ATP 10 mg) dalam 1–3 detik + NS 20 mL dan angkat lengan; lalu 12 mg (ATP 20 mg) setelah 1–2 min |
| Magnesium sulfat | Torsades/hipomagnesemia | Henti jantung 1–2 g dalam 10 mL D5/NS; dengan nadi 1–2 g dalam 50–100 mL selama 5–60 min, lalu 0,5–1 g/jam |
| Digoksin IV | Alternatif SVT; rate AF | 4–6 mcg/kg (dewasa 0,5 mg) dalam 5 min; lalu 2–3 mcg/kg (dewasa 0,25 mg) 4–8 jam; total 8–12 mcg/kg/8–16 jam; turunkan 50% dengan amiodaron |
| Prokainamid IV | Takikardia QRS lebar stabil | 20–50 mg/min sampai aritmia hilang; hentikan bila hipotensi/QRS +50%; maksimal 17 mg/kg; sumber menyebut belum tersedia di Indonesia |
| Sotalol IV | Takikardia QRS lebar stabil | 100 mg (1,5 mg/kg) dalam 5 min; hindari QT panjang; sumber menyebut belum tersedia di Indonesia |
Kontraindikasi yang ditekankanDiltiazem: sindrom sinus sakit, blok AV derajat 2/3 tanpa pacemaker, SBP <90, HR <50, MI akut/edema paru. Adenosin: hipersensitivitas, blok AV derajat 2/3 tanpa pacemaker, blok jantung berat, flutter/AF/VT menurut tabel, asma/bronkokonstriksi. Digoksin: VF, WPW, atau hipersensitivitas.
Langkah kardioversi tersinkronisasi
- Sedasi bila memungkinkan (contoh midazolam), tanpa menunda tindakan pada pasien tidak stabil.
- Nyalakan alat, pilih energi sesuai ritme, dan aktifkan mode sinkronisasi.
- Siapkan gel; letakkan paddle sternum kanan dan apex/linea axilla kiri; charge dari paddle apex.
- Pastikan seluruh tim clear, lalu lepaskan energi dengan tekanan paddle sekitar 12,5 kg menurut materi.
- Evaluasi EKG; bila muncul irama terorganisasi, periksa nadi—terutama setelah VT kompleks lebar. Bila aritmia dengan nadi menetap, naikkan energi.
Skenario klinis sumberLaki-laki 30 tahun dengan berdebar dan benjolan leher: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemasangan/interpretasi EKG, konseling, dan edukasi. Slide pemeriksaan lain mencantumkan TD 170/100, nadi 108 ireguler, RR 22, tanpa gagal jantung klinis.
B
Bradikardia
Materi Mediko slide 75–81
Algoritme menggunakan HR <50/menit. Tanda tidak stabil: NIH PAS—nyeri dada, iskemik, hipotensi, penurunan kesadaran, akut gagal jantung, syok. Penyebab: iskemia/MI, CCB/beta-blocker/digoksin atau toksin, hipoksia, dan hiperkalemia.
StabilMonitor dan observasi
Tidak stabilAtropin 1 mg IV, ulang q3–5 min, maks 3 mg
Bila tidak efektif: pacu jantung transkutan ATAU dopamin 5–20 mcg/kg/min ATAU epinefrin 2–10 mcg/min
Mobitz II atau blok derajat III: langsung lakukan pacu jantung tanpa atropin menurut materi
Obat bradikardia tidak stabil
| Obat | Dosis | Perhatian |
| Atropin sulfat | 1 mg IV (materi menyebut 4 ampul) tiap 3–5 min; tidak melebihi 0,04 mg/kg | Tidak respons pada blok AV derajat tinggi (Mobitz II / derajat III) |
| Dopamin | 5–20 mcg/kg/min | Koreksi hipovolemia; dapat menyebabkan takiaritmia/vasokonstriksi |
| Epinefrin | Bradi/hipotensi berat 2–10 mcg/min; tabel juga memuat 0,1–0,5 mcg/kg/min sebagai infus kontinu | Titrasi terhadap respons |
Pacu jantung transkutan
- Nyalakan defibrilator dan mode pacu; ganti paddle dengan pad. Posisi anteroposterior: positif di punggung antara skapula–vertebra, negatif anterior antara xiphoid dan areola kiri (V2–V3). Alternatif apeks–sternum disebutkan pada materi.
- Pilih mode demand/fixed (asinkron) sesuai kebutuhan; atur laju biasanya 60–70/menit.
- Pada hemodinamik tidak stabil dapat mulai dengan keluaran maksimal lalu diturunkan; pertahankan 5–10 mA di atas ambang tangkapan.
- Pastikan tangkapan listrik (QRS setelah tiap stimulus) dan selalu konfirmasi tangkapan mekanis dengan palpasi nadi.
Skenario klinis sumberLaki-laki 65 tahun, nyeri/sesak 2 jam, muntah dan keringat dingin; TD 80/60, nadi 40 reguler, akral dingin dan CRT >2 detik—identifikasi irama dan atasi kegawatan.
ACS
Sindrom Koroner Akut
Materi Mediko slide 82–103
Spektrum penyakit jantung koroner
| Angina stabil | UAP | NSTEMI | STEMI |
| Nyeri | <20 menit, membaik dengan istirahat | >20 menit, tidak hilang dengan istirahat |
| EKG | Positif saat stres; sering normal | ST depresi, T inversi, atau normal | ST elevasi atau LBBB baru |
| Enzim jantung | Tidak meningkat | Tidak meningkat | Meningkat | Meningkat |
Nyeri tipikal retrosternal, sulit dilokalisasi, terasa berat/dihimpit/ditekan/diremas/panas/penuh; dapat menjalar ke lengan kiri, bahu, punggung, epigastrium, leher, atau rahang. Waspadai nyeri epigastrik, sinkop, sesak, mual, muntah, dan keringat dingin. Tanyakan faktor risiko; pemeriksaan fisik dapat normal.
EKG dan laboratorium
Kriteria EKG yang dicantumkan
| STEMI | ST elevasi 0,1 mV pada 2 sadapan bersebelahan, kecuali V1–V3. V1–V3: pria ≥40 tahun ≥0,2 mV; pria <40 ≥0,25 mV; perempuan ≥0,15 mV. LBBB baru. |
| NSTEMI/UAP | ST depresi >0,1 mV; T inversi ≥0,2 mV; atau tanpa perubahan/normal. |
| Biomarker | CK-MB, troponin T/I, myoglobin; troponin lebih sensitif. Pedoman 2015 menganjurkan hs-cTnI/hs-cTnT bila tersedia. |
Tatalaksana umum ACS
Stabilkan ABC · Siap RJP/defibrilasi · EKG 12 sadapan · Catat onset/kontak medis · Beri aspirin, pertimbangkan O₂/nitro/morfin
ED <10 min: vital, SpO₂, IV, anamnesis/pemfis singkat, ceklis fibrinolisis, enzim/elektrolit/koagulasi
→Foto toraks portable <30 min
STEMI / LBBB baruJangan tunda reperfusi; bila onset <12 jam pilih PCI atau fibrinolisis
NSTE-ACS risiko tinggiStrategi invasif dini untuk nyeri refrakter, deviasi ST, VT, instabilitas, atau gagal jantung
Risiko rendah/sedangUnit nyeri dada, pemantauan, evaluasi lanjutan
<90%Mulai O₂ 4 L/menit
160–325 mgAspirin kunyah
<30 minTarget door-to-needle
<90 minTarget door-to-balloon
<120 minPCI masih dapat dicapai menurut alur
<12 jamReperfusi utama
Antiplatelet dan antikoagulan
Antiplatelet
| Obat | Indikasi/perhatian | Dosis |
| Aspirin | Semua SKA terutama kandidat revaskularisasi; kontraindikasi absolut hipersensitif, relatif ulkus aktif/asma | 160–320 mg non-enteric-coated secepatnya dan dikunyah; suppositoria 300 mg bila tidak dapat oral |
| Clopidogrel | Semua SKA; hindari perdarahan aktif; hati-hati risiko perdarahan/gangguan hepar; bukti terbatas >75 tahun; alternatif bila intoleransi aspirin | STEMI/UAP/NSTE risiko sedang-tinggi: dosis muatan 300 mg lalu 75 mg/hari; 600 mg bila PCI |
| Ticagrelor | NSTEMI/STEMI dengan strategi invasif dini | Dosis muatan 180 mg lalu 90 mg tiap 12 jam |
Antikoagulan
| Obat | Dosis sumber | Perhatian |
| UFH | Bolus 60 U/kg (maks 4.000 IU), lalu 12 U/kg/jam (maks 1.000 IU/jam); target aPTT 1,5–2× selama 48 jam/hingga angiografi | Cek aPTT 3 jam lalu tiap 6 jam hingga stabil; hindari perdarahan aktif, operasi intrakranial/intraspinal/mata baru, hipotensi berat, gangguan perdarahan, trombosit <100.000 atau HIT |
| Enoxaparin — tabel sumber salah memberi label “Clopidogrel” | STEMI <75: 30 mg IV lalu 1 mg/kg SC 15 min kemudian q12h (maks 100 mg dua dosis awal). ≥75: tanpa bolus, 0,75 mg/kg q12h (maks 75 mg dua dosis awal). CrCl <30: 1 mg/kg q24h. UA/NSTEMI: 30 mg IV lalu 1 mg/kg q12h. | Hati-hati HIT tipe II, insufisiensi renal; kontraindikasi trombosit <100.000 |
| Fondaparinux | STEMI 2,5 mg IV lalu 2,5 mg SC q24h hingga 8 hari; NSTEMI/UAP 2,5 mg SC q24h | Kontraindikasi CrCl <30; hati-hati 30–50; tambah UFH saat PCI karena trombosis kateter |
Kesalahan label sumberDua slide antikoagulan memberi judul baris “Clopidogrel”, tetapi isi, dosis, dan perhatiannya jelas membahas enoxaparin/LMWH. Guide mempertahankan dan menjelaskan anomali ini.
STEMI, PCI, dan fibrinolisis
ST elevasi · Nilai onset, risiko IMA, risiko fibrinolisis, dan waktu transfer
PCI dapat dicapai <120 minPCI primer
TidakFibrinolitik, target door-to-needle 30 min
Fibrinolisis berhasilNyeri turun, resolusi ST >50%, aritmia reperfusi → angiografi koroner
GagalPCI penyelamatan
Pilih fibrinolisis
- Onset <12 jam, paling efektif <3 jam.
- Tidak ada kontraindikasi.
- Tidak ada akses PCI atau transfer >120 min.
- Door-to-balloon >90 min atau selisih balloon–needle >1 jam.
Pilih strategi invasif
- Onset <12 jam; setelah >3 jam lebih efektif daripada fibrinolitik.
- Dapat dipertimbangkan >12 jam bila risiko tinggi.
- Kontraindikasi/risiko perdarahan tinggi, STEMI risiko tinggi/CHF/Killip >3, diagnosis diragukan.
- Door-to-balloon <90 min atau selisih balloon–needle <1 jam.
Kontraindikasi fibrinolitik menurut materi
| Absolut | Relatif |
| Perdarahan intrakranial kapan pun; stroke iskemik >3 jam dan <3 bulan; neoplasma intrakranial maligna; lesi vaskular serebral struktural; curiga diseksi aorta; trauma kraniofasial signifikan <3 bulan; perdarahan internal aktif/gangguan pembekuan. | TD tidak terkontrol atau >180/110; stroke iskemik >3 bulan/demensia; trauma/RJP lama >10 min atau operasi besar <3 bulan; perdarahan internal 2–4 minggu; penusukan pembuluh sulit ditekan; hamil; ulkus peptikum; antikoagulan dengan INR tinggi. |
Agen fibrinolitik
| Streptokinase | 1,5 juta U dalam 100 mL D5% atau NaCl 0,9% selama 30–60 min |
|---|
| Alteplase | 15 mg IV bolus; 0,75 mg/kg selama 30 min; lalu 0,5 mg/kg selama 60 min; maksimal 100 mg |
Pemantauan PAHASelama fibrinolisis, evaluasi vital dan EKG tiap 5–10 menit untuk Perdarahan, Alergi, Hipotensi, Aritmia reperfusi. Nilai keberhasilan pada 60–90 menit: nyeri hilang, ST turun >50%, aritmia reperfusi. Bila gagal → PCI penyelamatan.
Aritmia reperfusi yang ditampilkan: irama idioventrikular terakselerasi, sinus bradikardia, fibrilasi atrium, VT, dan blok AV. Aritmia maligna yang menetap atau menyebabkan instabilitas harus segera ditangani.
NSTEMI/UAP dan stratifikasi risiko
Risiko dan waktu strategi invasif
| Kategori | Kriteria sumber | Strategi |
| Sangat tinggi | Instabilitas/syok; nyeri refrakter; aritmia mengancam nyawa/henti jantung; komplikasi mekanik; gagal jantung akut; perubahan ST–T dinamis berulang terutama ST elevasi persisten | Invasif segera <2 jam |
| Tinggi | Perubahan troponin sesuai MI; perubahan ST/T dinamis; GRACE >140 | Invasif dini <24 jam |
| Sedang | DM; eGFR <60; LVEF <40%/CHF; angina dini pasca-MI; riwayat PCI/CABG; GRACE 109–140 | Invasif tertunda <72 jam |
| Rendah | Tidak memenuhi kriteria di atas; TIMI 0–1 atau GRACE <109 pada tabel strategi | Strategi dipandu iskemia / pemeriksaan noninvasif |
Pasien dari layanan gawat darurat atau RS tanpa PCI ditransfer ke RS PCI: segera untuk risiko sangat tinggi, hari yang sama untuk tinggi, transfer untuk sedang, opsional untuk rendah.
Skenario klinis sumberLaki-laki 65 tahun dengan nyeri dada dan keringat dingin: anamnesis/tatalaksana awal, pemeriksaan fisik/penunjang, diagnosis kerja dan dua diagnosis banding, rencana lanjutan dan edukasi. Data lanjutan: TD 150/90, HR 110, RR 26, SpO₂ 99%, kolesterol total 350, LDL 220, enzim jantung meningkat.
C
Kegawatan Sirkulasi
Hipotensi, syok, dan edema paru akut · slide 104–116
Hipotensi dan syok
Hipotensi: TDS <100 mmHg dan tidak selalu disertai syok. Syok: gangguan perfusi seluler. Cari masalah utama: irama, volume, atau pompa.
Masalah irama · HR <50 atau >150Algoritme bradi/taki tidak stabil
Masalah volumeUji cairan 2–4 mL/kg dalam 10 min; tabel lain menilai respons 500 mL kristaloid dalam 1 jam
Masalah pompaPilih inotropik/vasopresor berdasarkan HR, TD, dan tanda syok
Responsif terhadap cairanTD naik, HR turun
InkonklusifTD/HR tetap → ulang uji cairan satu kali
MemburukHR naik, TD turun/tetap → hentikan pendekatan volume dan evaluasi pompa
Masalah pompa menurut algoritme
| TD <90, tanpa syok | Dobutamin mulai 2 mcg/kg/min pada diagram |
|---|
| TD <90, syok + HR <50 | Dopamin 5–20 mcg/kg/min |
|---|
| TD <90, syok + HR >50 | Norepinefrin 0,1–0,5 mcg/kg/min |
Syok kardiogenik
Gejala: syok/hipoperfusi disertai gagal jantung bendungan atau edema paru. Evaluasi edema paru, hipovolemia, curah jantung rendah, dan aritmia.
Terapi berdasar SBP dan tanda syok
| Kondisi | Terapi sumber |
| SBP >100 | Nitrogliserin IV 10–20 mcg/min |
| SBP 70–100 tanpa syok | Dobutamin 2–20 mcg/kg/min |
| SBP 70–100 dengan syok | Dopamin 5–15 mcg/kg/min |
| SBP <70 dengan syok | Norepinefrin 0,3–30 mcg/min pada diagram |
Setelah stabilisasi, pertimbangkan kateter arteri pulmonalis, ekokardiografi, angiografi untuk iskemia/MI, pompa balon intraaorta, dan reperfusi/revaskularisasi.
Edema paru akut
Edema paru akut adalah timbunan cairan di pembuluh darah dan parenkim paru, paling sering akibat gagal jantung akut. Tanda: ortopnea, dispnea saat aktivitas, dan batuk riak berbuih kemerahan.
Tindakan pertama
- Posisi duduk.
- NRM O₂ 10–15 L/menit.
- Oksimetri, EKG, IV line.
- Nitrat (NTG/ISDN) sublingual.
- Furosemid 0,5–1 mg/kg IV dan kateter urin.
- Morfin 2–4 mg IV perlahan; VTP bila perlu.
Lini kedua
- TD normal/tinggi: NTG IV 10–200 mcg/min, naik 10 mcg tiap 10 min; hentikan bila hipotensi.
- TD turun tanpa syok: dobutamin 2–20 mcg/kg/min.
- TD turun dengan syok: dopamin 5–20 mcg/kg/min atau norepinefrin 0,1–0,5 mcg/kg/min.
Setelah SBP stabilDiagram syok kardiogenik menyebut bila SBP >100 dan tidak >30 mmHg di bawah nilai dasar, dapat dipertimbangkan inhibitor ACE kerja singkat seperti captopril 1–6,25 mg.
Inotropik, vasopresor, dan obat lain
Inotropik dan vasopresor
| Obat | Indikasi | Dosis / perhatian sumber |
| Epinefrin | VF, pVT, asistol, PEA; bradikardia/hipotensi berat; anafilaksis | Henti jantung 1 mg IV/IO q3–5 min, bilas 20 mL dan angkat lengan 10–20 dtk; ETT 2–2,5 mg dalam 10 mL. Bradikardia 2–10 mcg/min. |
| Norepinefrin | Syok kardiogenik berat, terutama HR normal/tinggi; syok vasodilatasi | 0,1–0,5 mcg/kg/min; koreksi volume; jangan campur alkali; waspadai ekstravasasi/nekrosis dan aritmia. |
| Dopamin | Masalah pompa dengan syok, terutama HR rendah | 5–20 mcg/kg/min; koreksi volume; risiko aritmia lebih tinggi daripada norepinefrin; jangan campur bikarbonat. |
| Dobutamin | Gagal jantung dengan SBP 70–100 tanpa syok | 5–20 mcg/kg/min pada tabel (diagram lain mulai 2); monitor hemodinamik; kenaikan HR >10% dapat memperberat iskemia; koreksi volume. |
Konflik keselamatan sumber · konsentrasi epinefrinSlide menyatakan epinefrin tersedia 1:10.000 dan 1:1.000, lalu mencetak “gunakan sediaan 1:1.000 untuk kasus henti jantung” dan 1 mg sebagai 1 mL 1:1.000, sambil memberi alternatif 10 mL 1:10.000. Ini adalah perbedaan konsentrasi berisiko tinggi dan harus diverifikasi terhadap protokol institusi sebelum penggunaan klinis.
Obat lain
| Obat | Indikasi dan dosis sumber | Kontraindikasi/perhatian |
| Nitrat | NTG 0,3–0,4 mg SL hingga 3 dosis q5 min; ISDN 5 mg SL hingga 3 dosis; NTG IV mulai 10 mcg/min, naik 10 q3–5 min, maks 200; ISDN 1–10 mg/jam | SBP <90; HR >150 atau <50; RV infarct; sildenafil 24 jam; turunkan MAP maksimal 25% pada hipertensi emergensi |
| Furosemid | 0,5–1 mg/kg IV selama 1–2 min; bila gagal hingga 2 mg/kg; edema paru new-onset dengan hipovolemia <0,5 mg/kg | Untuk edema paru dengan SBP >90–100 tanpa syok; pasang kateter urin |
| Morfin | STEMI/edema paru: 2–4 mg IV; tambahan 2–8 mg q5–15 min. NSTE-ACS: 1–5 mg bila nitrat gagal/nyeri berulang | Depresi napas, hipotensi, RV infarct; siapkan nalokson 0,04–2 mg IV |
| Kalsium glukonat | Larutan 10% 15–30 mL untuk hiperkalemia, toksisitas CCB/beta-blocker, atau hipokalsemia terionisasi | — |
| Natrium bikarbonat | 1 mEq/kg dalam 50 mL D5/NS bolus perlahan: hiperkalemia, asidosis metabolik responsif, TCA/aspirin/kokain/difenhidramin, resusitasi lama tertentu | Tidak efektif untuk asidosis respiratorik/hiperkarbia; tidak rutin pada henti jantung |
| Midazolam | 0,05–0,1 mg/kg, maks 4 mg per bolus; onset 2–5 min, durasi 15–30 min | Sedasi intubasi atau kardioversi |
| Insulin + dextrose | Insulin 10 U IV + dextrose 25 g (50 mL D50% atau 62,5 mL D40%) | Redistribusi kalium pada hiperkalemia |
Skenario klinis sumberPerempuan 23 tahun dengan penurunan kesadaran/sesak setelah minum obat: RR 32, TD 90/60, nadi 120 kecil, akral dingin/basah, angioedema dan urtikaria, oliguria—lakukan ABCDE, diagnosis kerja/banding, terapi awal, dan edukasi.
P
Henti Jantung Anak
Materi Mediko slide 117–120
Kualitas RJP
- Tekan >⅓ diameter AP, 100–120/menit, recoil sempurna.
- Minimalkan interupsi; ganti kompresor tiap 2 menit atau saat lelah.
- Tanpa jalan napas lanjut: 15:2 pada algoritme anak ini.
- Dengan jalan napas lanjut: kompresi kontinu + napas tiap 2–3 detik.
Defibrilasi
- Kejut pertama 2 J/kg.
- Kedua 4 J/kg.
- Berikutnya >4 J/kg, maksimal 10 J/kg atau dosis dewasa.
Terapi obat pediatri
| Epinefrin IV/IO | 0,01 mg/kg (0,1 mL/kg dari 0,1 mg/mL), maksimal 1 mg, ulang q3–5 min |
|---|
| Epinefrin ETT | 0,1 mg/kg (0,1 mL/kg dari 1 mg/mL) bila IV/IO tidak ada |
|---|
| Amiodaron IV/IO | 5 mg/kg bolus; dapat diulang hingga total 3 kali untuk VF/pVT refrakter |
|---|
| Lidokain IV/IO | Dosis muatan 1 mg/kg |
Penyebab reversibel yang dicantumkan: hipovolemia, hipoksia, asidosis, hipoglikemia, hipo/hiperkalemia, hipotermia, tension pneumothorax, tamponade, toksin, trombosis pulmoner, dan trombosis koroner.
Skenario klinis sumberOrang tua membawa anak ke IGD dan anak tiba-tiba gelisah lalu tidak sadar: jalankan algoritme kegawatan, farmakoterapi/nonfarmakoterapi, komunikasi, dan edukasi.
P±
Taki-Bradiaritmia Anak
Materi Mediko slide 121–126
Bradikardia pediatri dengan nadi
Nilai gangguan kardiopulmoner: perubahan mental akut, syok, hipotensi
TidakABC, O₂, observasi, EKG 12 sadapan, cari penyebab
YaJalan napas, ventilasi tekanan positif + O₂, monitor ritme/nadi/TD/SpO₂
Mulai RJP bila HR <60/menit meski sudah oksigenasi dan ventilasi
→IV/IO · epinefrin · atropin untuk tonus vagal/blok AV primer · pertimbangkan pacu jantung · tangani sebab
Cek nadi tiap 2 menit; bila hilang → algoritme henti jantung pediatri
Takikardia pediatri dengan nadi
Kenali ritme pediatri
| Sinus takikardia | SVT | QRS |
| P ada/normal, PR bervariasi; bayi <220, anak <180; atasi penyebab | P tidak ada/abnormal, RR tidak bervariasi; bayi >220, anak >180; onset mendadak | Sempit <0,09 dtk; lebar >0,09 dtk mengarah ke VT atau SVT dengan aberansi |
Jalan napas · O₂ · Monitor ritme/nadi/TD/SpO₂ · IV/IO · EKG 12 sadapan
Gangguan kardiopulmonerSVT sempit: adenosin bila IV/IO atau kardioversi; VT/lebar: kardioversi + konsultasi
StabilSVT: manuver vagal, lalu adenosin; lebar reguler monomorfik dapat dipertimbangkan adenosin + konsultasi
0,1 mg/kgAdenosin pertama, maks 6 mg
0,2 mg/kgAdenosin kedua, maks 12 mg
0,5–1 J/kgKardioversi awal
Bila kardioversi awal tidak efektif, naikkan energi sesuai algoritme; berikan sedasi bila perlu tetapi jangan menunda kardioversi pada anak tidak stabil.
Skenario klinis sumberAnak laki-laki 10 tahun dengan berdebar 1 jam: anamnesis, pemeriksaan, pemasangan/interpretasi EKG, tatalaksana dan KIE. Data slide lain: TD 170/110, nadi 110 ireguler, RR 29, tanpa tanda gagal jantung.
♀
Resusitasi pada Kondisi Khusus
Henti jantung pada wanita hamil · slide 127–129
Lanjutkan BLS/ACLS: RJP berkualitas tinggi, defibrilasi sesuai indikasi, algoritme standar
Susun tim henti jantung maternal · Cari etiologi
Intervensi maternalJalan napas · O₂ 100% tanpa hiperventilasi · IV · bila magnesium IV sedang berjalan, ganti/berikan kalsium klorida atau glukonat sesuai materi
Intervensi obstetrikPergeseran uterus ke kiri secara manual (manual left uterine displacement) · lepas monitor janin · siapkan seksio sesarea perimortem
Bila tidak ROSC dalam 5 menit: lakukan seksio sesarea perimortem menurut materi
?
Soal Latihan
12 slide soal · nomor 9 tidak ada di sumber; nomor 11 muncul dua kali; nomor 12 dipertahankan sebagai bonus
Kebijakan jawabanHanya No. 6 yang memiliki slide jawaban eksplisit. Jawaban lain diturunkan dari materi yang sama dan diberi alasan singkat; bukan kunci resmi terpisah.
SOAL No. 1 · EKG
Perempuan 28 tahun, berdebar 1 jam
Keluhan disertai sesak ringan dan sedikit pusing. TD 110/70 mmHg, nadi 180/menit reguler, RR 22/menit, suhu 36,8°C. Irama EKG yang ditunjukkan yaitu?
- Fibrilasi atrium
- Flutter atrium
- Takikardia supraventrikular
- Takikardia ventrikel
- Takikardia sinus
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
C · Takikardia supraventrikular. Strip tampak reguler, cepat, dan kompleks sempit tanpa gelombang P sinus yang jelas; sesuai pola SVT pada materi.
SOAL No. 2 · BLS
Wanita 35 tahun tenggelam dan tidak sadar
Setelah memanggil bantuan, apa yang selanjutnya dilakukan?
- Hentakan punggung untuk mengeluarkan air
- Manuver Heimlich
- Periksa nadi dan napas; bila tidak teraba segera kompresi dada 30:2
- Ekstensi kepala-angkat dagu
- Menghangatkan tubuh dengan handuk
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
C. Setelah aktivasi bantuan, nilai napas dan nadi secara bersamaan maksimal 10 detik; bila tidak ada nadi mulai RJP 30:2. Tidak dilakukan manuver untuk “mengeluarkan air.”
SOAL No. 3 · BLS Pediatri
Anak 2 tahun, dua penolong
Bagaimana perbandingan kompresi dan ventilasi yang tepat?
- 30:2
- 5:1
- 10:2
- 15:1
- 15:2
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
E · 15:2. Pada anak/bayi dengan dua penolong dan belum ada jalan napas lanjut, rasio pada materi adalah 15 kompresi : 2 ventilasi.
SOAL No. 4 · FBAO
Anak 3 tahun tersedak kacang, masih sadar
Anak sulit bernapas, panik, mulai sianosis, dan batuk tidak efektif. Tindakan segera?
- Mulai RJP
- 5 pukulan punggung diikuti 5 hentakan abdomen
- Oksigen masker non-rebreathing
- Tunggu batuk efektif
- Buka jalan napas
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
B. Anak sadar dengan sumbatan berat/batuk tidak efektif mendapat 5 pukulan punggung dan 5 hentakan; materi menentukan hentakan abdomen untuk anak >2 tahun.
SOAL No. 5 · Henti jantung
Pria 60 tahun tanpa napas dan nadi
RJP dimulai, oksigen diberikan, defibrilator dipasang, dan monitor menunjukkan irama berikut. Tindakan tepat selanjutnya?
- Defibrilasi segera dilanjutkan RJP
- Pasang IV/IO dan cairan cepat
- Adrenalin segera
- RJP 2 menit baru defibrilasi
- Amiodaron segera
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
A. Irama adalah VF, yaitu ritme yang dapat dikejut. Defibrilasi segera lalu lanjutkan RJP 2 menit tanpa menunda untuk obat atau akses.
SOAL No. 6 · Jawaban eksplisit dari sumber
Wanita 30 tahun dengan takikardia tidak stabil
Akral dingin, CRT >3 detik, TD 80/50 mmHg. Tindakan selanjutnya?
- Manuver vagal
- Amiodaron 150 mg dalam 10 menit
- Adenosin 6–12–12 mg
- Kardioversi sinkronisasi 50–100 J
- Kardioversi sinkronisasi 120–200 J
Tampilkan jawaban dari sumber
D · Kardioversi tersinkronisasi 50–100 J. Slide “Jawaban No. 6” menandai pilihan D merah. Pasien tidak stabil dan irama sempit reguler.
SOAL No. 7 · Bradikardia
Laki-laki 45 tahun, pusing dan sinkop
TD 90/60 mmHg, nadi 38/menit. Tindakan yang tepat?
- Infus epinefrin
- Isoproterenol IV
- Atropin 1 mg IV
- Dopamin 2–10 mcg/kg/min
- Pacu jantung transkutan
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
E · Pacu jantung transkutan. Gambaran menunjukkan blok AV derajat tinggi; materi menyatakan Mobitz II/derajat III langsung dipacu tanpa menunggu atropin.
SOAL No. 8 · STEMI
Laki-laki 60 tahun, nyeri dada menjalar ke lengan kiri
EKG menunjukkan elevasi ST inferior. Tindakan pertolongan yang dapat dilakukan?
- O₂ 3 L/menit bila saturasi >94%
- Fibrinolisis bila onset >12 jam
- Morfin sebelum nitrat sublingual
- PCI bila onset >12 jam dengan nyeri menetap
- Fibrinolisis bila nyeri <12 jam dengan door-to-needle <30 menit
Tampilkan jawaban yang disimpulkan dan ambiguitasnya
E adalah jawaban yang kemungkinan dimaksud. Fibrinolisis merupakan pilihan bila STEMI <12 jam dan PCI tepat waktu tidak tersedia, dengan target door-to-needle <30 menit. Namun D juga dapat benar secara kondisional karena materi menyatakan PCI dapat dipertimbangkan setelah >12 jam pada pasien risiko tinggi/iskemia menetap. Soal tidak memberi waktu onset, akses PCI, atau kontraindikasi sehingga tidak sepenuhnya tunggal.
SOAL No. 10 · Sumber melewati No. 9
Edema paru akut hipertensif
Laki-laki 65 tahun, sesak mendadak 2 jam, ortopnea, TD 190/100, nadi 120, RR 32, SpO₂ 82%, ronki basah bilateral ⅔ lapang paru. Pilihan tatalaksana, kecuali?
- Morfin sulfat
- ISDN 5 mg sublingual
- Kardioversi sinkronisasi bila disertai takikardi >150/menit
- Defibrilasi bila disertai takikardi >150/menit
- Furosemid 40 mg IV
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
D. Takikardia dengan nadi yang menyebabkan instabilitas memerlukan kardioversi tersinkronisasi; defibrilasi tidak ditentukan hanya oleh HR >150 dan digunakan untuk VF/pVT atau irama lebar ireguler tertentu.
SOAL No. 11 · Kemunculan pertama dalam sumber
Anak 5 tahun tenggelam, tidak sadar, muntahan di mulut
Teman mencari telepon dan menghubungi IGD. Apa yang dilakukan selanjutnya?
- Bersihkan muntahan dan segera mulai penyelamatan jalan napas
- Manuver Heimlich
- Periksa nadi; bila tidak ada, kompresi 30:2
- Tunggu alat bantu napas
- Hentakan abdomen
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
A. Muntahan yang terlihat harus segera dibersihkan untuk membuka jalan napas; pada tenggelam pediatri, koreksi hipoksia dan ventilasi dini sangat penting. Setelah jalan napas dibuka, nilai napas/nadi dan lanjutkan RJP sesuai temuan.
SOAL No. 11 · Label sumber berulang
Anak 6 tahun dengan takikardia reguler 200/menit
Pasien gelisah dan berkeringat; TD 90/60, RR 28, SpO₂ 92%. Tatalaksana awal paling tepat?
- Kardioversi tersinkronisasi segera
- Manuver vagal
- Bolus amiodaron IV
- Infus dopamin
- Observasi
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
B · Manuver vagal. Irama konsisten dengan SVT sempit dan reguler. Soal tidak menyatakan syok, hipotensi bermakna, atau perubahan kesadaran akut secara jelas; pada SVT tanpa gangguan kardiopulmoner yang tegas, algoritme sumber memulai dengan manuver vagal lalu adenosin.
BONUS · SOAL No. 12
Henti jantung pada kehamilan 34 minggu
Setelah 3 menit RJP berkualitas tinggi belum ROSC. Tindakan tambahan tepat?
- Magnesium sulfat IV
- Geser uterus ke kanan
- Geser uterus ke kiri
- Seksio sesarea segera
- RJP saja hingga 10 menit
Tampilkan jawaban yang disimpulkan
C · Pergeseran uterus ke kiri secara manual. Lakukan segera untuk mengurangi kompresi aortokaval sambil ACLS berjalan. Secara paralel siapkan seksio sesarea perimortem; materi menetapkan tindakan bila belum ROSC dalam 5 menit.
Kembali ke atas ↑